Jumlah Hari Hujan Bertambah, Kadis TPHPKP: Ada Positif-Negatifnya

Ket.gambar : Kepala Dinas TPHPKP Kabupaten Soppeng, Fajar

DBS NEWS, SOPPENG – Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Ketahanan Pangan (TPHPKP) Kabupaten Soppeng, Fajar menilai bertambahnya jumlah hari hujan di Kabupaten Soppeng memiliki dampak positif dan negatif bagi sektor pertanian.

“Akan menguntungkan jika distribusi hari hujan itu menyebar, tapi justru akan merugikan jika hari hujan itu bertumpuk pada satu waktu, misalnya tujuh hari berturut-turut, itu justru berisiko tinggi untuk terjadinya banjir yang bisa mengakibatkan puso,” kata Fajar, Rabu (25/5/2022).

Fajar memberi contoh, bagaimana tingginya intensitas hujan yang tiba-tiba terjadi di bulan Agustus tahun lalu, menyebabkan kerugian di sektor pertanian yang saat itu akan melakukan panen raya.

Begitupun dengan puncak musim kemarau yang diprediksi terjadi di bulan september dan oktober namun justru terjadi hujan selama beberapa hari berturut-turut sehingga mengakibatkan banjir.

“Akibat banjir tahun kemarin, kurang lebih 2 ribu hektare lahan pertanian di Soppeng mengalami puso. Pokoknya selama tiga tahun ini, kita tidak pernah tidak puso akibat banjir,” kata Fajar.

Adanya fenomena perubahan iklim ini, Dinas TPHPKP Soppeng mulai membuat langkah antisipasi melalui program Adaptasi dan Mitigasi Iklim.

Dijelaskan Fajar, program Adaptasi Iklim memfokuskan pada kegiatan-kegiatan yang sifatnya mereduksi atau mengurangi dampak dari pada perubahan iklim. misalnya mengajak warga membuat embun atau lubang resapan.

Lubang resapan ini fungsinya untuk menampung air hujan agar tidak langsung mengalir ke sungai. Resapan air yang masuk ke tanah ini nantinya juga diharapkan bisa menjadi sumber-sumber mata air yang bisa dimanfaatkan saat musim kemarau.

“Di program adaptasi iklim ini, kita juga mengajak petani untuk mulai mengembangkan tanaman varietas yang tahan banjir atau yang toleran terhadap genangan,” kata Fajar.

Sementara itu, untuk program Mitigasi Iklim difokuskan pada peningkatan sumber daya manusia, petani diajarkan membaca perubahan iklim dan langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan.

“Kita mengajarkan petani agar bisa mendapatkan penghasilan tambahan apabila terjadi kegagalan dalam usaha taninya. Salah satunya dengan cara memanfaatkan pekarangan rumah untuk lahan penanaman. Selain bisa menghasilkan, ini juga bisa menjadi upaya mengurangi pemanasan global,” ujar Fajar.

Diberitakan sebelumnya, Stasiun Klimatologi Maros mencatat jumlah hari hujan di Kabupaten Soppeng terus mengalami peningkatan dalam tiga tahun terakhir, dari tahun 2019, 2020 dan 2021.

Pada tahun 2021, jumlah hari hujan di Kabupaten Soppeng mencapai 208 hari, sementara di tahun 2020 yaitu 164 hari dan tahun 2019 yaitu 95 hari.

Apabila diruntut berdasarkan bulan, jumlah hari hujan terbanyak di tahun 2021 terjadi di bulan Januari yang mencapai 30 hari, Februari (20 hari), Maret (23 hari), April (11 hari), Mei (11 hari), Juni (14 hari), Juli (9 hari), Agustus (8 hari), September (11 hari), Oktober (17 hari), November (26 hari), Desember (28 hari).

(id)

Komentar