DBS NEWS, SOPPENG – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan mencatat, persentase penduduk umur 5 tahun ke atas di Kabupaten Soppeng yang sudah bisa mengakses internet baru mencapai angka 54,82 persen pada tahun 2021.
Artinya, masih ada sekira 45,18 persen warga Soppeng yang belum sama sekali dapat mengakses internet dan berselancar di dunia maya.
Untuk diketahui, hasil proyeksi penduduk interim BPS Soppeng, dari total 235.574 jumlah penduduk Kabupaten Soppeng di tahun 2021, sebanyak 220.137 diantaranya merupakan penduduk umur 5 tahun ke atas.
Persentase pengguna internet di Kabupaten Soppeng ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2020, dimana saat itu jumlah pengguna internet hanya mencapai angka 40,08 persen.
Jika dibandingkan dengan 24 Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatan, Soppeng berada di peringkat ke-12 sebagai daerah dengan jumlah persentase penduduk tertinggi yang bisa mengakses internet.
Data BPS Sulsel, penetrasi pengguna internet terbanyak di Sulsel masih terpusat di daerah perkotaan. Dimana Kota Makassar, Palopo dan Parepare menunjukkan persentase tertinggi penduduk dalam mengakses internet.
Total persentase penduduk Kota Makassar yang mengakses internet mencapai angka 79,66 persen pada tahun 2021.
Peringkat kedua ditempati Palopo dengan 78,86 persen, lalu berturut-turut Pare-Pare (78,17 persen), Pinrang (68,02), Luwu Timur (64,40) dan Pangkep (61,59), Sidrap (61,31), Maros (60,76), Gowa (55,47), Luwu (55,41) dan Enrekang (55,28).
Sementara itu dilansir dari Antara, hasil survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dari tahun 2021-2022, mengungkap sejumlah fakta mengenai perilaku pengguna internet di tanah air.
Berdasarkan survei terbaru itu, alasan terbesar masyarakat menggunakan internet adalah untuk mengakses pesan instan dan media sosial (98,02 persen), lalu sekolah atau kerja dari rumah (90,21 persen) dan mencari informasi atau berita (92,21 persen).
Mereka juga menggunakan internet untuk mengakses layanan publik (84,9 persen), transportasi online (76,47 persen), layanan keuangan (72,32 persen), transaksi online (79 persen), email (80,74 persen) dan konten hiburan (77,25 persen).
Sementara untuk masyarakat yang tidak menggunakan internet, survei tersebut juga mengungkapkan alasannya.
Dimana masyarakat mengaku tidak menggunakan internet karena merasa harga kuota terlalu mahal (45,16 persen) dan tidak memiliki gawai (44,8 persen).
Mereka juga mengatakan tidak ada sambungan internet di wilayahnya (43,37 persen), tidak tahu cara menggunakan perangkat (41,48 persen) dan merasa tidak aman di dunia maya (41,01 persen). (id)







Komentar