Kecurangan Pedagang Soppeng Jadi Penelitian, Hasilnya Bikin Geleng-geleng Kepala

DBS NEWS, SOPPENG – Sebuah penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa UIN Alauddin Makassar mengungkap bentuk kecurangan yang paling sering dilakukan dalam transaksi perdagangan sembako di pasar-pasar Kabupaten Soppeng.

Hasil penelitian, bentuk kecurangan yang paling sering dilakukan oleh oknum pedagang sembako di Soppeng adalah terkait timbangan.

Dimana dalam transaksinya, para pedagang yang menjadi objek penelitian menggunakan dua jenis timbangan yang berbeda.

Timbangan yang pertama adalah timbangan yang bagus, yang digunakan saat mendisplay dagangan mereka.

Timbangan ini relatif masih bagus dari segi penampilan, dengan jarum timbangan dan angka yang tertulis dengan jelas.

Timbangan kedua, adalah timbangan yang sudah rusak atau tidak layak pakai. Umumnya timbangan ini dipakai saat menimbang barang belanjaan konsumen.

Yang mana sebagian besar jarum timbangannya sudah tidak akurat. Hal inilah yang kemudian merugikan konsumen atau pembeli.

“Hasil observasi menemukan masih adanya pedagang sembako yang melakukan jual belinya dengan asal menimbang, tanpa memperdulikan keakuratan dan kesesuaian barang yang mereka timbang sehingga dapat merugikan konsumen atau pembeli,” tulis para peneliti.

Identifikasi awal dari observasi menunjukkan bahwa kondisi tersebut terkesan menjadi motivasi para pedagang dalam memperoleh keuntungan sebanyak mungkin.

Kondisi tersebut juga memperlihatkan bahwa para pedagang cenderung mengabaikan motivasi utama dalam berdagang yaitu memenuhi kebutuhan masyarakat dan memberikan kepuasan dalam hal ini adalah konsumen.

Konsumen hanya dianggap sebagai ladang penghasil uang, bukan sebagai mitra bisnis yang seharusnya kedua belah pihak baik penjual maupun pembeli memperoleh keuntungan yang sama, bukan justru saling merugikan.

Akibat dari perilaku curang tersebut, pada akhirnya berdampak kepada masyarakat dan juga berdampak kepada pedagang lainnya.

Dampak yang pertama, pembeli sudah tidak percaya lagi kepada pedagang yang berjualan di pasar karena mereka selalu didzolimi khususnya dalam penimbangan sembako.

Dampak selanjutnya adalah pembeli merasa cemas karena masih ada beberapa pedagang yang melakukan penimbangan yang curang.

Dari dampak yang disebabkan tersebut, tentunya juga berdampak pada beberapa pedagang lain karena secara tidak langsung mereka juga kena imbasnya.

Mungkin ada beberapa pedagang yang jujur dalam menimbang sembako tapi dikarenakan adanya pedagang yang berbuat curang mereka juga menjadi korban.

“Sebagian besar pedagang sembako di pasar Soppeng kurang memahami bahkan tidak tahu mengenai timbangan yang benar dalam sistem Ekonomi Islam, para pedagang hanya mementingkan keuntungan belaka dan mengesampingkan masalah etika sehingga mengabaikan tanggungjawab sebagai pedagang dan merugikan pembeli ataupun pedagang lainnya.”

“Hal ini juga terkait karena kurangnya perhatian dari pemerintah atau lembaga keagamaan yang menyinggung tentang aturan timbangan yang benar dalam ajaran Islam,” tulis peneliti dalam kesimpulannya. (id)

Komentar