DBS NEWS, SOPPENG – Strategi marketing Decoy Product mulai diterapkan dan digunakan oleh beberapa pengusaha di Kabupaten Soppeng.
Decoy Product atau produk umpan adalah teknik pemasaran yang bertujuan untuk meningkatkan penjualan produk utama dengan menawarkan produk tambahan yang lebih mahal atau kurang menguntungkan bagi konsumen.
Produk tambahan akan bertindak sebagai perangkap yang memancing konsumen untuk memilih produk utama atau produk alternatif yang lebih menguntungkan.
Contoh penerapan decoy product sering ditemukan pada produk minuman atau makanan.
Taktik decoy product ini akan memanfaatkan logika konsumen untuk memilih produk yang lebih menguntungkan.
Contoh paling sederhana dalam penerapan decoy product, ketika ada dua produk minuman, yang satu ukuran kecil harganya Rp10 ribu, satunya lagi ukuran sedang harganya Rp15 ribu.
Sebagai pembeli kita kemungkinan besar akan membeli produk minuman ukuran kecil karena lebih murah. Nah dari sini muncullah lagi satu pilihan produk minuman dengan ukuran besar yang harganya Rp30 ribu.
Adanya tambahan pilihan ini, kita yang tadinya mau membeli minuman ukuran kecil jadinya berubah pikiran karena ada dua pilihan perbandingan minuman yang ukuranya besar. Cukup dengan menambah Rp5 ribu sudah dapat ukuran sedang.
Akhirnya konsumen akan memilih minuman ukuran sedang. Nah produk minuman dengan ukuran besar yang mahal inilah berperan sebagai decoy product.
Decoy product sendiri dibuat dengan tujuan bukan untuk dibeli oleh konsumen alias sengaja dibuat untuk tidak laku.
Strategi marketing ini diketahui sudah ada sejak puluhan tahun lalu dan telah diterapkan oleh banyak pelaku usaha, dan strategi ini terbukti dapat menaikkan penjualan dengan signifikan.
Menurut Gerald Zaltman, seorang Profesor di Harvard Business School, pada dasarnya orang berbelanja itu sering kali tidak didasari dengan pertimbangan rasional, tetapi didasari oleh keputusan emosional yang bisa dipicu oleh perbandingan harga.
Seperti, Packaging yang menarik, tawaran paket ekonomis dan hal-hal pelengkap lainya yang bukan merupakan esensi utama produk.
Nah, mungkin ini juga yang menjadi penyebab mengapa kita mudah terbujuk dengan promo diskon, ikut berburu flash sale dan lain semacamnya. (id)







Komentar