Krisis Ikon Budaya Dinilai Jadi Pemicu Rentannya Konflik di Soppeng

Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Unhas, Prof. Dr. Nurhayati Rahman

DBS NEWS, MAKASSAR – Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof. Dr. Nurhayati Rahman, menilai Kabupaten Soppeng saat ini rentan terhadap konflik karena hilangnya identitas dan ikon budaya yang seharusnya berfungsi sebagai pemersatu masyarakat.

Pandangan tersebut disampaikannya dalam dialog publik mengenai dinamika pemerintahan Kabupaten Soppeng di bawah kepemimpinan Suwardi Haseng dan Selle KS Dalle yang digelar oleh Redaksi Tribun Timur di Makassar, Selasa (10/2/2026).

Menurut Nurhayati, setiap suku bangsa sejatinya memiliki mekanisme internal untuk menyelesaikan masalah. Namun, di Soppeng, mekanisme tersebut melemah karena ketiadaan ikon budaya yang representatif, seperti istana, yang dapat berfungsi sebagai titik temu atau simbol integrasi.

“Problem yang menimpa Soppeng adalah tidak adanya ikon budaya yang representatif. Tidak ada istana yang bisa menjadi perekat integrasi. Akibatnya, masyarakat tidak lagi melirik pemerintah sebagai pusat nilai, sehingga daerah menjadi rentan konflik,” ujarnya.

Ia kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan daerah lain seperti Luwu. Di sana, istana masih terpelihara dan sosok Raja atau Datu masih menjadi simbol kepatuhan yang disegani masyarakat.

“Kalau Raja bilang berhenti berkelahi, orang akan berhenti. Di Soppeng, kita tidak punya itu lagi,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa nilai-nilai lokal seperti Asimaturuseng (kesepakatan) dan Tudang Sipulung (musyawarah) kini mulai luntur. Praktik saling menghormati, seperti budaya Mappatabe, seharusnya kembali dikedepankan agar karakter bangsa yang santun tidak tergerus oleh ekspos kekerasan.

“Alas dari penyelesaian masalah itu adalah demokrasi dan musyawarah. Tapi itu tidak berlangsung sekarang karena penghormatan terhadap simbol budaya dan orang tua sudah memudar,” ucapnya.

Sebagai solusi, Nurhayati mendesak Pemerintah Daerah Soppeng untuk segera membebaskan wilayah Lalabata agar fungsi istana dapat dipulihkan. Keberadaan istana ini diharapkan mampu menjadi ikon mappaseddi atau pemersatu.

“Tolong bebaskan Lalabata karena masih ada istana di situ. Supaya ada ikon mappaseddi yang menyatukan orang, sehingga tidak gampang terjadi konflik,” pungkasnya.

Komentar