Sulsel Defisit Politisi Kultural, Pengamat: Tak Ada Lagi Tokoh Pendamai

Akademisi sekaligus Pengamat Politik Pemerintahan, Dr. Andi Luhur Prianto

DBS NEWS, MAKASSAR – Akademisi sekaligus Pengamat Politik Pemerintahan, Dr. Andi Luhur Prianto, menyebut bahwa Sulawesi Selatan saat ini tengah mengalami defisit tokoh politik kultural di tengah melimpahnya tokoh politik struktural.

Pandangan ini disampaikan Andi Luhur dalam dialog publik mengenai dinamika pemerintahan Kabupaten Soppeng di bawah kepemimpinan Suwardi Haseng dan Selle KS Dalle, yang digelar oleh Redaksi Tribun Timur di Makassar, Selasa (10/2/2026).

“Di Sulawesi Selatan ini kita surplus tokoh politik struktural, banyak sekali politisi dan penguasa. Tapi kita minus atau defisit tokoh politik kultural, tokoh yang didengar orang, yang punya marwah, yang bisa mendamaikan. Itu tidak ada di Sulawesi Selatan ini sekarang,” ujarnya.

Ia pun mengenang masa-masa di mana sosok seperti Jusuf Kalla dianggap mampu mengisi kekosongan peran tersebut. Namun, di tingkat lokal atau kabupaten, sosok-sosok dengan marwah kultural seperti itu kini kian sirna.

“Di tingkat lokal atau kabupaten, kita juga semakin kehilangan,” ucapnya.

Menurut Andi Luhur, hilangnya ketokohan kultural ini merupakan dampak langsung dari arena politik yang semakin pragmatis dan transaksional. Relasi antara satu orang dengan orang lainnya tidak lagi didasari oleh loyalitas murni, melainkan berdasarkan pertukaran materi.

“Makanya orang yang didukung pun menganggap kenapa saya harus patuh terus, bukankah saya sudah bayar sebelumnya. Bagi masyarakat, relasi kekuasaan model pragmatis dan transaksional seperti ini itu akan semakin menjauhkan dari situasi harmonis,” beber Andi Luhur.

Penulis: Idham

Komentar