Mahasiswa Unismuh Teliti Dampak Tiktok Terhadap Anak-anak di Soppeng, Ini Hasilnya

DBS NEWS, SOPPENG – Mahasiswa Fakultas Agama Islam Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Universitas Muhammadiyah Makassar, Gusmita Sari, meneliti dampak media sosial TikTok terhadap sejumlah anak di Kabupaten Soppeng.

Penelitian dilakukan kepada anak-anak usia 9 sampai 12 tahun yang menjadi santri di TPA Nurul Yaqin Lapince, Desa Goarie, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng. Penelitian berlangsung selama kurang lebih dua bulan, dari tanggal 15 Desember 2021 hingga 15 Februari 2022.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa TikTok ternyata sudah sangat familiar dikalangan santri TPA Nurul Yaqin Lapince. penggunaannya pun dinilai sudah sangat berlebihan sehingga tanpa sadar merusak perilaku santri dengan sendirinya.

“Dampak buruk penggunaan TikTok dikalangan santri ini dapat diukur dari sifat hormat, disiplin dan kejujuran para santri yang semakin menipis,” tulis Gusmita Sari dalam penelitiannya yang dikutip DBS News, Selasa (30/8/2022).

Adanya TikTok, santri sering tidak menghormati Ustazahnya dengan berbicara tidak sopan dengan mengikuti kata-kata yang pernah dilihat di TikTok tersebut, seperti anjay, iri bilang bos dan fuckyou.

Kecanduan santri dengan Tiktok juga berpengaruh kepada kedisiplin, dimana santri sering berangkat lebih awal dari rumah menuju TPA Nurul Yaqin Lapince, namun sering terlambat sampai di TPA. Penyebabnya adalah karna mereka singgah ditempat-tempat sepi lalu membuat video TikTok atau menonton video TikTok bersama.

Sifat kejujuran santri juga berpengaruh, dimana santri sering meminta izin kepada orang tua untuk datang ke TPA Nurul Yaqin Lapince, namun sering tidak sampai di tempat tujuan. Ketika ditanya oleh Ustazahnya penyebab tidak hadir kemarin, maka santri menjawab dengan alasan sakit, kerja kelompok, ada kerjaan, ada acara dan lain-lain. Tapi alasan sebenarnya tidak masuk mengaji adalah karna kumpul bersama temannya main TikTok.

Sifat ketidakjujurannya ini sering ketahuan oleh Ustazahnya karna ada teman yang melapor dan konfirmasi ulang kepada orang tua.

Dari penelitian ini juga diketahui bahwa orang tua santri ternyata tidak menyadari perilaku anaknya sendiri karena mereka menganggap bahwa hal tersebut sudah biasa terjadi dikalangan anak-anak.

Bahkan orang tua merasa bangga ketika anaknya mampu mengikuti perkembangan yang terjadi di zaman saat ini seperti melakukan hal-hal yang dilihat di TikTok, seperti bergoyang tanpa mengenal waktu dan tempat, bahkan mengikuti kata-kata tidak sopan yang ada di video tersebut,

“Faktor utama penggunaan media TikTok pada santri adalah orang tua, karena orang tualah yang memberikan wadah pokok dalam penggunaan media yaitu Handphone,” tulis Gusmita.

“Orang tua santri harus lebih mengawasi dan mengontrol anak dalam menggunakan Handphone, karena kita tidak mengetahui sejauh apa yang mereka akses dalam internet dan lebih memperhatikan anak dalam berperilaku dan berbicara,” tambah Gusmita. (id)

Komentar