DBS NEWS, SOPPENG – Dari 181.890 Daftar Pemilih Tetap (DPT) di Kabupaten Soppeng untuk Pemilu 2024, sebanyak 31.982 pemilih diantaranya ternyata lebih rentan terpapar politik uang.
31.982 orang ini merupakan para pemilih dari kategori Generasi Z atau Gen Z atau mereka yang lahir di rentang tahun 1997 hingga 2012 atau berusia 17-24 tahun.
Hal ini jika kita menghubungkannya dengan hasil riset yang dilakukan oleh Andrew Garner dari University of Wyoming Amerika Serikat, yang meneliti tentang tingkah laku politik masyarakat Indonesia.
Dalam hasil penelitiannya yang dipaparkan oleh peneliti Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Nurul Amelia, disebutkan bahwa para generasi muda ini bahkan lebih bersedia menerima uang dalam proses Pemilu ketimbang generasi tua.
“Hasil riset itu menunjukkan bahwa kaum muda cenderung lebih permisif terhadap vote buying. Yang membentuk karakter mereka permisif pada politik uang ialah variabel pendidikan dan penghasilan,” kata Nurul yang DBS News kutip dari Alinea.id, Rabu (27/12/2023).
Rendahnya penghasilan seseorang jadi salah satu faktor yang paling berpengaruh. Menurut Nurul, orang yang penghasilannya rendah cenderung menganggap wajar politik uang meskipun punya tingkat pendidikan yang tinggi.
“Pemilih berpenghasilan menengah dan tinggi, mereka cenderung menolak uang karena mereka tidak membutuhkan. Pemilih dengan tingkat penghasilan rendah, setinggi apa pun pendidikannya, akan menerima uang dari tim kampanye kandidat,” ucap Nurul.
Nurul sepakat perlu ada edukasi politik yang masif di kalangan anak muda untuk membendung penetrasi politik uang jelang Pemilu 2024.
Ia mengusulkan agar penyelenggara pemilu rutin menyebarluaskan konten-konten edukatif di media sosial.
“Sumber informasi utama pemilih muda adalah dari media sosial,” pungkasnya.
Sementara itu, Pakar komunikasi politik Universitas Airlangga (Unair), Suko Widodo menilai wajar jika kaum muda dianggap rentan terpapar politik uang jelang Pemilu 2024.
Situasi ini menurutnya, erat kaitannya dengan karakter mereka yang cenderung permisif.
“Karena longgarnya aturan dan etika sosial. Apakah mereka rentan politik uang? Bisa jadi iya, karena menganggap praktik money politic dianggap ikhwal biasa dan dicontohkan generasi sebelumnya,” ucap Suko.
Suko menduga praktik-praktif politik uang bakal masif menyasar kaum muda di Pemilu 2024. Pasalnya, mayoritas pemilih saat ini berasal dari kalangan milenial dan gen Z.
“Konfigurasi politik saat ini yang memang menjadikan pemilih muda sebagai sasaran kunci kemenangan,” imbuhnya.
Meningkatkan literasi politik, kata Suko, bisa jadi strategi untuk memagari generasi muda dari politik uang.
“Harus ada pencerahan secara massif terhadap politik uang. Para rohaniawan perlu dihadirkan untuk menyatakan pesan tersebut,” kata Suko.







Komentar