DBS NEWS, SOPPENG – Kejadian banjir yang sering melanda Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng, ternyata bukan hanya disebabkan dari intensitas hujan yang deras saja, melainkan adanya faktor lain.
Hasil penelitian mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM), Rusdi Arfandi menunjukkan bahwa ada beberapa faktor utama yang sangat berpengaruh terhadap kerawanan banjir di wilayah Lilirilau yaitu, penggunaan lahan, ketinggian tempat dan kemiringan lereng.
Menurut Rusdi, penggunaan lahan untuk permukiman dan persawahan akan memungkinkan suatu daerah menjadi rawan terhadap banjir ketimbang penggunaan lahan untuk dijadikan kawasan hutan.
Hal ini disebabkan karena hutan dengan vegetasi berupa pohon-pohon besar, akarnya akan dapat menahan laju overlandflow serta menyimpannya, kemudian melepaskannya secara perlahan-lahan, sehingga air yang masuk ke badan-badan sungai tidak bersamaan.
“Dibandingkan dengan penggunaan lahan untuk permukiman, yang mana hampir seluruh wilayahnya tertutupi oleh aspal dan beton, maka hal ini akan menyebabkan laju overlandflow besar. Air yang mengalir dan masuk ke badan-badan sungai volumenya menjadi besar dan bersamaan sehingga kemungkinan banjir juga lebih besar,” tulis Rusdi dalam risetnya yang dikutip DBS News, Sabtu (24/9/2022).
Selain karena faktor penggunaan lahan, faktor kemiringan lereng juga berpengaruh. Daerah dengan lereng yang datar memiliki kemungkinan banjir lebih besar jika dibandingkan daerah dengan kemiringan lereng yang lebih besar.
Hal ini dipengaruhi karena pada daerah dengan lereng yang datar akan memungkinkan air dari segala arah untuk berakumulasi di badan-badan sungai sehingga volume air pada sungai meningkat sementara alirannya lambat.
Dibandingkan dengan kemiringan lereng yang besar, maka air akan cenderung untuk mengalir lebih cepat ketimbang mengalami akumulasi sehingga air yang masuk ke sungai tidak bersamaan dan mengalir dengan cepat.
“Daerah dengan ketinggian yang kecil juga memiliki kemungkinan untuk mengalami banjir lebih besar, ketimbang daerah dengan nilai ketinggian yang tinggi, karena umumnya pada daerah-daerah yang tinggi merupakan daerah hulu sungai dan pada daerah rendah merupakan muara sungai hasil pertemuan air yang berasal dari hulu serta daerah rendah sebagai tempat berkumpulnya air,” tulis Rusdi. (id)







Komentar