DBS NEWS, SOPPENG – Penggunaan bahasa vulgar dikalangan remaja Soppeng ternyata tidak bisa dibendung lagi. Bahasa vulgar adalah bahasa yang kurang pantas atau kurang sopan untuk digunakan karena mengandung makna yang jorok atau tidak baik.
Dalam sebuah Tesis berjudul ‘Penggunaan Bahasa Vulgar Pada Anak Usia Remaja Masyarakat Desa Mattabulu’ karya Mastang, Mahasiswa Program Pascasarjana Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra UNISMUH Makassar terungkap sejumlah fakta.
Berdasarkan observasi yang dilakukan pada remaja usia 13-18 tahun di Desa Mattabulu, terungkap bahwa bahasa vulgar ternyata tidak hanya dilontarkan pada saat seseorang merasa marah ataupun kesal, penggunanaan bahasa vulgar justru lebih sering digunakan para remaja sebagai bahan bercandaan di saat obrolan santai.
Para remaja ini dengan mudahnya mengganggap bahasa tersebut sebagai bahasa santai dengan tidak ada rasa malu dan ketakutan saat melontarkan kata-kata tersebut.
Bahasa yang remaja ini gunakan di situasi tersebut adalah bahasa vulgar yang tegolong kasar, karena menyebut anggota tubuh yang tabuh dan menyebut binatang.
Bahasa vulgar yang menyinggung bagian tubuh tersebut seperti penyebutan payudara, alat vital laki-laki, bokong (pantat), alat vital perempuan, sedangkan penyebutan nama binatang, seperti Anjing dan Monyet.
“Remaja dengan usia yang cukup muda dan dalam masa perkembangan menuju dewasa seharusnya takut bahkan segan jika mendengar bahasa-bahasa yang terkesan kasar dan vulgar tapi hal tersebut tidak berlaku bagi sebagian remaja terkhusus di desa Mattabulu kabupaten Soppeng,” tulis Mastang dalam tesis yang dipublikasikan pada 23 Agustus 2022 lalu.
Hasil penelitian Mastang ini juga menyebutkan sejumlah faktor yang menyebabkan penggunaan bahasa vulgar di kalangan remaja ini, diantaranya yaitu, faktor pendidikan, keluarga, usia dan lingkungan.
Faktor pendidikan menjadi penentu karakter seseorang dalam berbicara. Orang yang berpendidikan, sedikit banyaknya lebih berpikir sebelum berbicara, misalnya dengan memikirkan kata-kata yang akan diucapkan kepada lawan bicaranya agar kata-katanya tidak menyinggung perasaan lawan bicaranya.
Selain faktor latar belakang pendidikan, kebiasaan berbicara menggunakan bahasa-bahasa kasar atau tidak senonoh dapat dilihat dari latar belakang keluarga.
Dalam penelitian di lapangan, banyak ditemui remaja yang berasal dari kelurga berantakan sangat rendah dalam etika. Hal tersebut kemungkinan karena kurangnya sosialiasi dengan kedua orang tua atau kurangnya kasih sayang.
Selain faktor tersebut, lingkungan pergaulan atau teman bergaul juga memberikan pengaruh tehadap kesopanan khususnya dalam bertutur kata. Jika seorang remaja selalu berada di lingkungan pertemanan yang hobi berbicara kasar, maka secara perlahan akan mengikuti gaya bicara di lingkungan tersebut.
“Hasil penelitian juga membuktikkan bahwa penggunaan bahasa vulgar juga disebabkan oleh faktor usia. Faktor usia dapat menjadi penentu karakter seseorang apalagi dalam berbicara. Pada usia remaja 13-18 tahun terungkap bahwa lebih banyak remaja laki-laki yang menggunakan bahasa vulgar daripada perempuan,” tulis Mastang. (id)







Komentar