Ilustrasi konser musik
DBS NEWS, SOPPENG – Musim kampanye segera tiba, seperti biasa para pelaku politik yang mengincar kursi kekuasaan bakal berusaha menarik perhatian masyarakat dengan menggelar berbagai kegiatan yang bersifat pengumpulan massa.
Salah satu cara yang selama ini dianggap paling efektif untuk memancing kehadiran massa adalah dengan menggelar konser musik.
Untuk perhelatan semacam kampanye politik di Indonesia, genre musik yang dianggap paling efektif dalam pengumpulan massa adalah musik dangdut.
Di Kabupaten Soppeng, konser musik dangdut juga dinilai efektif sebagai alat untuk membangun partisipasi masyarakat saat kampanye politik.
Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar (UNM), Novita.
Dalam penelitiannya, Novita menulis bahwa mendatangkan artis dangdut dalam kampanye politik di Kabupaten Soppeng dapat menjadi penarik masyarakat Soppeng untuk berkumpul.
Semakin terkenal artis yang didatangkan maka semakin banyak juga masyarakat yang datang dalam acara kampanye tersebut.
Semakin banyak masyarakat yang datang, memberikan peluang yang besar kepada para politisi untuk dipilih karena banyak masyarakat yang bakal mengetahui calon tersebut.
“Media kampanye penghasil perolehan suara terbanyak adalah dengan cara door to door. Namun dengan telah dilaksanakannya acara kampanye yang menghadirkan artis, maka masyarakat dapat lebih mengetahui calon tersebut saat pelaksaan door to door nantinya,” tulis Novita.
Kampanye yang mendatangkan artis dangdut nasional di Kabupaten Soppeng mulai pertama kali dilakukan oleh calon bupati dan wakil bupati pada tahun 2000-an.
Pada kampanye-kampanye berikutnya hal yang sama dilakukan oleh para politisi saat ingin melangsungkan kampanye, mereka akan mendatangkan artis dangdut nasional sebagai media hiburan dan sebagai media kampanye.
“Hal ini memberikan relasi diantara kedua belah pihak. Relasi yang tercipta dalam kampanye adalah kandidat mendatangkan artis untuk menghibur masyarakat dan masyarakat hadir untuk mendengarkan pemaparan visi dan misi dari kandidat,” ungkap Novita.
Menurut peneliti, meski musik Dangdut sudah dikenal dari akhir tahun 1970-an, namun musik dangdut saat itu belum begitu disukai oleh masyarakat di Kabupaten Soppeng.
Musik dangdut baru begitu diminati oleh masyarakat di Kabupaten Soppeng saat mulai munculnya ajang-ajang pencarian bakat pada tahun 2000-an.
Minat masyarakat Soppeng untuk menonton dangdut dan menyukai dangdut semakin bertambah saat stasiun televisi menayangkan acara pencarian bakat yang menghadirkan biduan perwakilan dari Sulawesi Selatan.
Biduan-biduan tersebut diantaranya, Aty dari Kepulauan Selayar peserta Liga Dangdut Akademi (LIDA) tahun 2014, Evi dari Masamba peserta LIDA tahun 2015 dan Selfi dari Soppeng perserta LIDA 2018.
Titik puncak kepopuleran artis dangdut di Kabupaten Soppeng terjadi pada tahun 2014 hingga saat ini. Hal itu dibuktikan dengan seringnya masyarakat menyaksikan dan mendengarkan lagu dangdut dalam sehari.
Dalam survei yang dilakukan peneliti dengan melibatkan 50 informan asal Soppeng, sebanyak 78 persen masyarakat Soppeng mengaku sangat sering menyaksikan acara dangdut yang ada di televisi setiap harinya.
“Sedangkan masyarakat Soppeng yang sering membicarakan dangdut, baik lagu dangdut maupun artis dangdut ada sekira 66 persen,” tulis Novita. (id)







Komentar