DBS NEWS, SOPPENG – 1 dari 10 bayi yang lahir di Kabupaten Soppeng ternyata mengalami Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).
Hal ini berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Soppeng yang dipublish oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada 28 Februari 2024.
Dalam data tersebut, tercatat dari 2.576 jumlah bayi yang lahir di Kabupaten Soppeng pada tahun 2023, sebanyak 261 bayi mengalami BBLR.
Jumlah bayi dengan kasus BBLR di tahun 2023 ini menjadi yang tertinggi dalam enam tahun terakhir.
Sebagai perbandingan, tahun 2022 ada sebanyak 2.699 bayi lahir di Kabupaten Soppeng, dari jumlah tersebut sebanyak 238 bayi mengalami BBLR.
Lebih jauh lagi di tahun 2018, dari 2.757 bayi lahir sebanyak 175 mengalami BBLR.

Dilansir dari berbagai sumber, bayi dengan BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram atau 2,5 kg.
Salah satu penyebab utama BBLR adalah kelahiran prematur. Jika dibandingkan dengan bayi yang cukup bulan, bayi prematur memiliki waktu lebih singkat untuk tumbuh dan berkembang di rahim ibu.
Selain kelahiran prematur, kondisi BBLR juga bisa disebabkan oleh kondisi ibu ketika hamil, seperti mengalami malnutrisi, menderita infeksi dan komplikasi selama kehamilan, mengandung bayi kembar, dan mengonsumsi NAPZA atau minuman beralkohol.
Bayi dengan BBLR merupakan masalah utama di negara berkembang termasuk Indonesia yang menyebabkan meningkatnya angka kesakitan dan kematian bayi.
Indonesia merupakan negara yang menempati peringkat kelima dengan jumlah bayi BBLR tertinggi di antara 88 negara di seluruh dunia.
Pada tahun 2018, tren bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) di Indonesia sebesar 6,2 persen. (id)







Komentar