Ilustrasi
DBS NEWS, SOPPENG – Kabupaten Soppeng mencatat peningkatan signifikan dalam kasus stunting atau gizi buruk pada pertengahan tahun 2025 ini. Data terbaru Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Soppeng menunjukan bahwa jumlah kasus stunting meningkat dari 1.105 anak selama tahun 2024 menjadi 1.242 anak hingga 22 Mei 2025.
“Persentase balita stunting menurut E-PPGBM sebesar 11,8% atau 1.242 anak. Jumlah ini tersebar di 70 Desa/Kelurahan. Tapi ini masih data sementara, nanti diakhir tahun bisa dilihat pastinya untuk tahun 2025,” ujar Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Soppeng, Erna Ruslan, Kamis (22/5/2025).
Menurut Erna, meningkatnya kasus stunting di Kabupaten Soppeng tidak lepas dari banyaknya faktor yang bisa mempengaruhi kejadian stunting itu sendiri, mulai dari asupan gizi, pola asuh, faktor ekonomi, pengetahuan orang tua, pernikahan dini dan sosial budaya di masyarakat.
“Penanganan stunting bukan hanya sektor kesehatan, kalau merujuk dari Perpres 72 tahun 2021, ada dua jenis intervensi stunting yaitu spesifik dan sensitif. Kami sektor kesehatan bergerak di intervensi spesifik, mulai dari pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri, sampai pada penanganan anak bayi balita sampai umur 5 tahun. Ini kami sudah lakukan maksimal dan itu hanya berkontribusi sebanyak 30%.”
“Intervensi sensitif itu dilakukan oleh sektor di luar kesehatan dan itu kontribusinya 70%, jadi kalau kami dari kesehatan sudah melakukan upaya maksimal. Selebihnya itu di luar sektor kesehatan. Sekretariat stunting itu ada di Dinas P3AP2KB, kami kesehatan hanya bagian dari Tim Percepatan Penanganan Stunting,” urai Erna.
Ditanya mengenai jumlah anggaran penanganan stunting di Kabupaten Soppeng selama tahun 2024, Erna mengaku tidak tahu pasti, yang ia tahu khusus di Dinkes Soppeng hanya menganggarkan pembelian susu sebanyak Rp200 juta untuk anak stunting di tahun 2024.
“Kalau anggaran bisa sama Bappelitbangda. Kalau Dinas Kesehatan kemarin ada anggaran untuk pembelian susu sebanyak Rp200 juta. Untuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) ada di masing-masing Puskemas, bukan di Dinkes. Ada juga kayaknya dari Dana Desa tapi kalau jumlahnya saya kurang tahu,” beber Erna.
Penulis : Idham







Komentar