PLT Kadinkes Soppeng, Muhammad Evinuddin dalam bingkai ilustrasi
DBS NEWS, SOPPENG – Kabupaten Soppeng tengah dihadapkan pada tantangan baru menyusul naiknya jumlah kasus stunting di tahun 2026 ini.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Soppeng, jumlah anak yang mengalami stunting di wilayah ini telah mencapai 1.204 orang. Angka tersebut berasal dari pengukuran 10.124 balita pada triwulan pertama tahun 2026.
Sebagai perbandingan, sepanjang tahun 2025 lalu, Dinkes Soppeng mencatat jumlah balita stunting masih di angka 1.200 anak dari 10.401 balita yang diukur.
Secara persentase, prevalensi stunting pada awal tahun 2026 berada di angka 11,9 persen, naik tipis dari 11,5 persen pada tahun 2025.
Angka ini sendiri menurut Dinkes masih berada di bawah target yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yaitu sebesar 18 persen.
Menanggapi situasi ini, PLT Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Soppeng, Muhammad Evinuddin, menegaskan pentingnya kolaborasi berbagai pihak untuk menekan angka kasus stunting di lapangan.
Menurutnya, penanganan stunting tidak boleh hanya dibebankan kepada sektor kesehatan semata. Diperlukan keterlibatan aktif dari berbagai perangkat daerah, mulai dari penyediaan sanitasi layak, ketahanan pangan keluarga, hingga edukasi pola asuh bagi masyarakat di tingkat desa dan kelurahan.
“Ini baru laporan semester pertama, kita berharap angka kasus stunting di Soppeng dapat menurun dengan intervensi yang dilakukan bersama dengan lintas sektor,” ujar Evinudin kepada DBS News, Senin (24/8/2026).
Sekedar diketahui, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis, terutama dalam jangka waktu lama.
Stunting dapat mempengaruhi perkembangan fisik dan kognitif anak, serta meningkatkan risiko penyakit dan kematian.
Penulis: Idham







Komentar