Rapor Merah Ekonomi Soppeng: 4 Sektor Ini Susul Pertanian Alami Kontraksi

Ilustrasi

DBS NEWS, SOPPENG – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Soppeng mencatat beberapa lapangan usaha di Kabupaten Soppeng mengalami kontraksi selama periode Triwulan II tahun 2026.

Sekedar diketahui, kontraksi dalam ekonomi merujuk pada perlambatan atau penyusutan pertumbuhan ekonomi.

Dalam data yang dipublikasikan pada 7 September 2026, Kontraksi terdalam terjadi pada lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yakni mencapai 17,23 persen.

Kemudian disusul Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 9,19 persen, lalu Jasa Pendidikan sebesar 6,64 persen.

Kontraksi juga terjadi pada sektor Transportasi dan Pergudangan sebesar 4,47 persen, serta Pertambangan dan Penggalian sebesar 2,79 persen.

Menurut BPS, kontraksi pada sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan dipicu oleh menurunnya produksi pada sejumlah komoditas hasil pertanian.

Sementara kontraksi pada Kategori Jasa Pendidikan dipicu oleh adanya penurunan belanja pegawai fungsi pendidikan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Sedangkan penurunan pada Kategori Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum serta Transportasi dan Pergudangan dipengaruhi oleh pergeseran momentum hari besar.

Berakhirnya momen Ramadan dan libur Idul Fitri yang jatuh pada triwulan sebelumnya, serta transisi menjelang akhir tahun ajaran baru yang turut memengaruhi pergerakan aktivitas masyarakat, menjadi faktor pendorong terjadinya kontraksi pada kedua sektor tersebut.

“Ekonomi Kabupaten Soppeng Triwulan II-2026 terhadap triwulan sebelumnya mengalami kontraksi sebesar 2,15 persen.”

“Meskipun mayoritas lapangan usaha mampu tumbuh, akan tetapi melemahnya beberapa kategori yang memiliki kontribusi cukup besar menjadikan secara makro ekonomi Soppeng mengalami kontraksi dibandingkan triwulan sebelumnya,” tulis BPS Soppeng dalam publikasinya.

Penulis: Idham

Komentar