Mengulik Awal Kedatangan Orang Jawa di Kecamatan Lilirilau

Ilustrasi

DBS NEWS, SOPPENG – Migrasi orang Jawa di Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng, diyakini sudah terjadi sejak tahun 1970, namun saat itu migrasi yang terjadi masih sangat sedikit.

Migrasi besar-besaran orang Jawa ke Lilirilau baru terjadi di tahun 1998, hal itu dipengaruhi oleh krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia saat itu.

Hal ini berdasarkan hasil penelitian tiga mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar (UNM), Patahuddin, Bahri dan Muh Fadly.

Berdasarkan penelitian mereka, salah satu faktor pendorong migran Jawa melakukan migrasi ke Kecamatan Lilirilau adalah faktor yang berasal dari daerah asal.

Minimnya lapangan kerja serta faktor sumber daya alam yang semakin berkurang mengakibatkan orang Jawa melakukan migrasi.

Pasalnya jika tetap bertahan di Jawa tanpa memiliki pendidikan yang tinggi dan keahlian, mereka akan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan, karena sebagian besar lapangan kerja saat itu ada pada sektor industri yang mengedepankan pendidikan dan keahlian.

Selain faktor pendorong yang berasal dari daerah asal, juga ada faktor penarik. Faktor penarik adalah faktor yang berasal dari daerah tujuan, seperti kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan keadaaan lingkungan yang menyenangkan di Kecamatan Lilirilau.

Ini tidak lepas dari cerita tentang keberhasilan kerabat mereka yang lebih dulu merantau di Kecamatan Lilirilau dan cerita hubungan antara orang Jawa dengan orang Bugis di Kecamatan Lilirilau yang terjalin dengan harmonis.

Orang Jawa di Kecamatan Lilirilau mayoritas menekuni pekerjaan di bidang kuliner. Mereka mendirikan warung makan dan bakso keliling dengan cita rasa makanan khas Jawa yang relatif sederhana dan harga terjangkau.

Usaha Kuliner yang paling banyak digeluti adalah penjual bakso keliling dengan alasan modal yang digunakan lebih sedikit dibandingkan membuka warung.

Selain usaha di bidang kuliner, orang Jawa di Kecamatan Lilirilau juga menekuni usaha lain, misalnya penjual jamu, jual beli barang bekas, penjual baju, jasa cukur, dan usaha mebel. (id)

Komentar