DBS NEWS, SOPPENG – Hasil penelitian Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah, Universitas Negeri Makassar (UNM), Nurul Rabianti, berhasil mengungkap sejumlah fakta menarik mengenai Mantra Cenningrara di Kabupaten Soppeng.
Mantra cenningrara atau mantra pekasi ini merupakan salah satu jenis mantra yang dipercaya dapat membuat orang terlihat lebih cantik, menarik perhatian dan membuat awet muda.
Dalam penelitiannya, Nurul Rabianti menulis bahwa mantra cenningrara muncul karena adanya keyakinan masyarakat bahwa dunia ini sebenarnya memiliki kekuatan gaib.
Manusia pun berusaha membujuk dan menundukkan kekuatan gaib tersebut dalam rangka memenuhi keinginan-keinginan mereka yang bersifat rasional ataupun tidak rasional.
Masyarakat meyakini bahwa membaca mantra cenningrara merupakan wujud dari usaha untuk mencapai keinginannya.
“Mantra cenningrara ini dapat digunakan oleh laki-laki maupun perempuan. Penggunaan cenningrara tidak dibatasi oleh umur tertentu. Hanya saja anak-anak yang tidak bisa menimbang terhadap apa yang diperbuatnya belum bisa diberikan,” tulis Nurul Rabianti dalam penelitiannya.
Nah, daripada penasaran, berikut fakta lain dari Mantra Cenningrara yang harus anda tahu :
Bentuk Mantra Cenningrara di Kabupaten Soppeng

Dalam penelitiannya, Nurul Rabianti mengkaji tiga bentuk mantra cenningrara, yaitu mantra untuk mempercantik diri, mantra untuk menarik perhatian dan mantra untuk membuat awet muda.
Mantra cenningrara untuk mempercantik diri, biasanya dibaca ketika ingin mandi. Pembacaan mantra cenningrara ini dilakukan satu kali dalam satu hari, saat mandi pada pagi hari.
Adapun bunyi dari mantra ini yaitu, Ashadu Alla ilahaillalah Waashadu Anna Muhammadan Rasulullah. Audzubillah himinasyaitonirrajim. Bismillahi rahmanirahim. Mata Sulona Allataala mancaji esso Manninna Allataala mancaji uleng Uwae matanna Allataala mancaji uwae Nabielereq asenna nabinna uwaie Paccahayangekka rupakku Pacinnongenga sippada uwae Barakka duang kun fayakun.
Untuk mantra cenningrara untuk Awet muda, mantra ini biasanya dipakai sebelum dan sesudah mandi. Pembacaan mantra cenningrara ini juga biasanya dilakukan satu kali dalam satu hari saja, saat mandi pada pagi hari.
Adapun bunyi dari mantra ini yaitu, Bismillahi rahmanirahim. Waelereng pessinna Allataala Makkalu riwatakkaleku Sanrekka temmate temmatoa Umalolo fulana Barakka Lailahaillallah.
Sementara itu, mantra cenningrara untuk menarik perhatian, biasanya digunakan ketika bertemu dengan sesorang yang ingin ditarik perhatiannya. Caranya yaitu dengan menatap seseorang tersebut secara diam-diam, kemudian membaca mantranya dalam hati.
Namun selain menggunakan tatapan mata, mantra ini juga ternyata biasa digunakan saat menggunakan bedak dan sisir.
Adapun bunyi dari mantra khusus tatapan yaitu, Bismillahi rahmanirahim. Duppa mata iruk mata Iruk makduppang mata. Palettukenga mata atinna I Anu. Iyapa namanyameng nyawana. Narekko iyyaq naita. Naperinawa-nawa ri Atinna. Naperinawa-nawa matteruk Barakka duang, kun fayakun.
Persepsi Masyarakat Terhadap Mantra Cenningrara

Meski masih ada masyarakat Kabupaten Soppeng yang percaya terhadap mantra cenningrara ini, namun penggunaannya di zaman modern saat ini sudah mulai ditinggalkan.
Hal ini disebabkan karena pengaruh adanya alternatif dan alat-alat kosmetik yang bisa menyulap wajah menjadi lebih cantik. Bahkan banyak alat kosmetik yang bisa menyulap wanita berkulit hitam menjadi putih.
Hasil penelitian, masyarakat berpendapat bahwa mantra cenningrara, tidak menjamin kecantikan seseorang saat ini, berbeda dengan zaman dahulu yang belum ada kosmetik atau alat kecantikan lain seperti sekarang.
Mantra cenningrara jika dipakai oleh seseorang belum tentu bereaksi pada pengguna mantra sedangkan alat alat kosmetik menjamin kecantikan seseorang karena barangnya dapat dilihat dan terjamin khasiatnya.
Saat ini pengguna mantra ini hanyalah orang-orang tua yang sudah berusia 70 ke atas. Mereka masih sangat percaya terhadap mantra tersebut.
“Menurut mereka, mantra tersebut adalah warisan nenek moyang zaman dahulu kala dan diwarisi ke anak cucunya, itulah sebabnya hal-hal gaib seperti mantra masih ada sampai sekarang, karna masih ada masyarakat pewarisnya.”
“Namun, anak-anak zaman sekarang yang memiliki keturunan mempunyai mantra dari neneknya, jarang bahkan banyak yang sudah tidak mau mewarisinya, karena menurutnya mantra atau hal gaib hanya dipakai pada zaman dahulu kala, mantra atau hal gaib yang seperti itu sudah tidak dipakai pada zaman modern ini,” tulis Nurul Rabianti dalam penelitiannya. (id)







Komentar