3 Hal Ini Bisa Buyarkan Mimpi Agropolitan Kabupaten Soppeng

Kepala Bappelitbangda Kabupaten Soppeng, Andi Agus Nongki

DBS NEWS, SOPPENG – Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kabupaten Soppeng, mengungkap tiga hal yang bisa menghambat program agropolitan di Kabupaten Soppeng.

Agropolitan merupakan konsep pembangunan yang mengintegrasikan kegiatan pertanian, industri, dan layanan di dalam keterkaitan jaringan wilayah kota dan pedesaan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

“Dalam pengembangan agropolitan ada beberapa hal yang menjadi tantangan yang dapat menghambat pencapaian tujuan dan keberlanjutannya, antara lain keterbatasan modal, perubahan iklim dan persaingan pasar,” ujar Kepala Bappelitbangda Kabupaten Soppeng, Andi Agus Nongki, Rabu (22/1/2025).

Keterbatasan modal menjadi hambatan pertama dalam program agropolitan di Kabupaten Soppeng. Faktor ini tidak hanya terkait mengenai kesulitan modal para petani, namun juga ketakutan para investor untuk mengeluarkan modal, mengingat sektor pertanian memiliki resiko tinggi.

“Petani sering kesulitan mendapatkan pinjaman atau modal usaha pertanian karena terbatasnya akses ke lembaga keuangan formal, begitupun dengan investor yang kurang tertarik pada sektor pertanian karena dianggap beresiko tinggi,” ujar Andi Agus.

Hambatan kedua, yaitu perubahan Iklim. Dampak perubahan cuaca yang sangat ekstrim sangat berpengaruh pada kegiatan petani, yaitu sulitnya menentukan masa tanam dan panen. Kesulitan menentukan masa tanam membuat kerugian ekonomi, akibat penurunan produktivitas tanaman.

“Perubahan cuaca yang ekstrem sangat mempengaruhi pola tanam dan hasil panen petani,” kata Andi Agus.

Faktor penghambat ketiga, yaitu persaingan pasar. Menurut Andi Agus Nongki, hal ini menjadi tantangan tersendiri karena produk pertanian lokal masih sering kalah bersaing dengan produk impor yang lebih murah.

“Selain itu harga produksi hasil pertanian sering tidak stabil akibat adanya permainan dari tengkulak, sebagaimana kita ketahui petani sangat bergantung pada tengkulak,” bebernya.

Diberitakan sebelumnya, terdapat lima potensi besar dalam pengembangan agropolitan di wilayah Kabupaten Soppeng.

Potensi pertama, yaitu pertanian yang kaya, wilayah Soppeng disebut memiliki lahan pertanian yang subur terutama dalam produksi padi, jagung dan komoditas hortikultura. Bahkan luas arahan kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B) mencapai 22.403 hektare.

Potensi kedua, yaitu pengolahan hasil pertanian, yaitu dengan mengembangkan industri pengolahan hasil pertanian dan meningkatkan nilai tambah produk lokal, seperti pengolahan tepung beras, beras organik dan olahan sayuran.

Potensi ketiga, yaitu pengembangan infrastruktur seperti peningkatan jalan dan irigasi. Potensi keempat, yaitu pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan petani dalam pengambilan keputusan.

Potensi kelima, yaitu pemasaran produk dengan membuka akses pasar yang luas, melalui platform digital serta kerjasama dengan lembaga pemasaran.

Kesuksesan dalam mencapai rencana besar ini sendiri bakal tergambarkan dalam kondisi wilayah Kabupaten Soppeng dalam 20 tahun kedepan, yang dicirikan oleh perwujudan kota-kota kecamatan yang memiliki produktivitas tinggi dari aktivitas agroindustri yang didukung oleh produksi pertanian berbasis teknologi presisi dan kecukupan sarana-prasarana dari kawasan perdesaan di sekitarnya.

Kota-kota kecamatan tersebut bakal terintegrasi dengan ibu kota kabupaten yang berkembang sebagai kota jasa dan pariwisata yang memiliki produktivitas tinggi dengan dukungan teknologi digital.

“Dengan pengembangan yang tepat diantaranya diversifikasi komoditas, penerapan teknologi pertanian dan sistem kemitraan yang baik, Soppeng bisa menjadi model agropolitan yang berhasil dan berkelanjutan. Ini bukan hanya akan meningkatkan ekonomi lokal, tetapi juga memperbaiki kualitas hidup masyarakat,” urai Andi Agus Nongki.

(Idham)

Komentar