Soppeng Pasca Proklamasi Kemerdekaan

DBS NEWS, SOPPENG – Pasca proklamasi kemerdekaan yang diumumkan pada 17 Agustus 1945. Penyebarluasan berita tentang proklamasi dilakukan dengan berbagai cara, antara lain melalui pemberitaan yang disebarkan dari mulut ke mulut dan melalui siaran radio.

Di Soppeng, berita kemerdekaan mulai dibicarakan secara berbisik sejak tanggal 22 Agustus 1945. Kemudian, setelah organisasi PNI (Pemuda Nasional Indonesia) terbentuk atas inisiatif Andi Mahmud, berita kemerdekaan tersebar luas.

Andi Mahmud yang memiliki pesawat penerima radio, sempat mendengar adanya proklamasi. Ketika itu, ia menjabat sebagai Kepala Distrik Liliriaja, Onderafdeling Soppeng.

Dikutip dari Jurnal Penelitian karya Dodi Doigo Rahmada dan Patahuddin, berjudul Dinamika Pemerintahan Soppeng Pada Masa Afdeling Bone Hingga Masa Pemerintahan Andi Wana 1905-1960, disebutkan bahwa pasca proklamasi, tidak serta merta bangsa Indonesia merdeka sepenuhnya.

Belanda kembali ke indonesia dengan tujuan untuk mengembalikan kekuasaanya sebagaimana
Hindia Belanda dulu.

Hal ini tentu saja memicu masyarakat Indonesia untuk melakukan perlawanan terhadap belanda, ini yang menjadi tonggak awal sejarah Kelaskaran yang ada di Indonesia.

Banyak kelaskaran di Sulawesi Selatan yang melakukan perlawanan terhadap Belanda, Salah satunya adalah Gabungan Pemuda Indonesia Soppeng (GAPIS) yang merupakan Organisasi perlawanan yang berasal dari Soppeng.

GAPIS yang didirikan pada tanggal 27 Oktober 1945 ini diprakarsai oleh pemuda-pemuda Soppeng, diantaranya Abdul Azis, M. Idris, M Arsyad Tamin, M. Nur dan Andi Maddiheng.

Pemuda-pemuda ini bertemu dan berunding untuk mencetuskan ide, yaitu pembentukan wadah perjuangan yang siap menghimpun potensi pemuda-pemuda yang telah berikrar untuk berjuang dan membela serta mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Hasrat untuk merdeka sepenuhnya membuat para tokoh pemuda dan masyarakat terus gencar melakukan perlawanan baik melakukan serangan fisik maupun dengan jalur diplomasi.

Hal tersebut pada akhirnya menarik perhatian dunia, melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa perundingan dilakukan antara Belanda dan Indonesa guna menyelesaikan masalah pertikaian.

Penyerahan dan pengakuan kedaulatan dilakukan pada tanggal 27 Desember 1949, meskipun kenyataannya kedaulatan sudah diakui, perjuangan untuk kembali ke bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesa masih terus dilakukan.

Pada tanggal 15 Agustus 1950 di hadapan sidang DPRS dan Senat RIS di Jakarta, Soekarno mengumumkan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semua struktur konstitusional semasa tahun-tahun revolusi secara resmi dihapuskan.

Republik Indonesia Serikat dengan Republik Indonesia sebagai unsur di dalamnya, serta negara-negara federal lainnya dinyatakan berakhir dan digantikan oleh suatu Republik Indonesia yang baru.

Setelah terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, Soppeng sempat tergabung dalam Daerah Swantantra Bone yang meliputi Swapraja Bone, Soppeng, dan Wajo.

Namun pada tanggal 13 Maret 1957, Swatantra Bone, Wajo dan Soppeng akhirnya dibubarkan.

Hal ini didasarkan bahwa ketiga daerah tersebut sudah dianggap mampu untuk menjadi daerah otonom dengan pertimbangan bahwa daerah tersebut mempunyai kondisi geografis yang sangat subur dan jumlah penduduk yang cukup besar sehingga dianggap telah mampu membangun daerahnya sendiri.

Setelah melepaskan diri dari daerah Swatantra Bone, Soppeng pada akhirnya menjadi daerah otonom Tingkat II Kabupaten Soppeng, dengan Kepala Daerah pertama yaitu Datu Haji Andi Wana.

Bersambung…

Komentar