DBS NEWS, NASIONAL – Head of Agriculture Research dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Aditya Alta menilai perluasan lahan tidak efektif dijadikan solusi utama dalam menjawab tantangan sektor pertanian dan pemenuhan kebutuhan pangan Indonesia.
Cara ini menurutnya tidak sesuai dengan prinsip keberlanjutan dan justru berpotensi merusak lingkungan serta memperparah krisis iklim.
“Beberapa dampak yang akan terjadi ketika melakukan perluasan sawah adalah menghabiskan waktu yang lama. Hal ini karena mencetak lahan baru terlebih dilahan gambut, belum tentu karakteristik lahan yang dibuka cocok.”
“Hal ini juga belum tentu dapat memenuhi kekurangan stok pangan. Selanjutnya perluasan lahan sawah juga beresiko mengancam ekosistem yang ada, hingga merusak keseimbangan lingkungan,” tutur Aditya yang dikutip DBS News dari Damfarm.id, Selasa (13/12/2022).
Alih-alih memperluas lahan sawah, CIPS merekomendasikan pemerintah sebaiknya memperkuat produksi pangan yang ada dengan mendukung riset dan inovasi, mengadopsi teknologi pertanian, serta meningkatkan kapasitas petani agar lebih produktif, termasuk melalui kerja sama dengan pihak swasta.
Tak hanya itu, CIPS juga merekomendasi peningkatan produktivitas lahan maupun tenaga kerja melalui penggunaan bibit unggul, peningkatan akses pada pupuk, penanganan serangan hama/gulma dan penggunaan alat mesin pertanian atau mekanisasi.
“Rekomendasi terakhir adalah dapat dilakukan perbaikan teknik budidaya, perbaikan dan perluasan jaringan irigasi, modifikasi cuaca untuk mitigasi perubahan iklim dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor pertanian,” ujar Aditya.







Komentar