DBS NEWS, SOPPENG – Perang saudara ini diperkirakan terjadi pada pertengahan abad XVI. Perang ini melibatkan Kerajaan Soppeng Riaja yang dipimpin oleh La Mataesso dan Soppeng Rilau yang dipimpin oleh La Makarodda.
Awalnya, kedua kerajaan hidup rukun dan damai. Mereka masih memegang teguh prinsip bahwa Kerajaan Soppeng memiliki dua orang raja tetapi hanya satu rakyat, yaitu rakyat Soppeng.

Namun dalam perkembangannya, seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, hubungan antara keduanya mulai memburuk.
Penyebabnya karena ambisi Datu Soppeng Rilau, La Makarodda untuk memperluas wilayah kekuasaannya dengan menguasai Kerajaan Soppeng Riaja.
Tindakan yang dilakukan oleh La Makarodda ini meresahkan rakyat di kerajaan Soppeng Rilau yang selama ini tidak pernah bermusuhan dengan Kerajaan Soppeng Riaja.
Beberapa wilayah yang tergabung dalam Soppeng Rilau pun melakukan protes dan memberi saran kepada La Makarodda untuk tidak melakukan tindakan yang dianggap sebagai suatu sikap keserakahan.

Segala upaya dilakukan untuk menyelesaikan konflik yang muncul. Para penasehat kedua kerajaan berulangkali melakukan pertemuan untuk mencari jalan keluar agar konflik tidak sampai meletus menjadi perang, namun upaya itu tetap saja gagal.
Setelah seluruh upaya gagal dilakukan untuk menahan keinginan La Makarodda, akhirnya salah satu federasi kerajaan Soppeng Rilau, yaitu Umpungeng datang menghadap Raja Soppeng Riaja.
Umpungeng dan seluruh rakyatnya tidak menyetujui langkah yang dilakukan oleh La Makarodda.
Ketidaksetujuannya itu ditunjukkan dengan menyatakan bahwa Umpungeng dengan seluruh rakyatnya keluar dari persekutuan Kerajaan Soppeng Rilau dan menggabungkan diri dengan kerajaan Soppeng Riaja.

Bergabungnya wilayah Umpungeng ke dalam payung Kerajaan Soppeng Riaja membawa dampak politik yang luar biasa bagi Kerajaan Soppeng Riaja, sebab mengakibatkan posisi politik Kerajaan Soppeng Rilau menjadi lemah.
Hingga pada akhirnya, perang kedua kerajaan berhasil dimenangkan oleh Kerajaan Soppeng Riaja.
Kekalahan Kerajaan Soppeng Rilau dalam perang, membuat sang Raja, La Makarodda memutuskan meninggalkan kerajaannya.
Tapi sebelum ia meninggalkan Kerajaan Soppeng Rilau, utusan dari La Mataesso datang untuk menemui La Makarodda dengan membawa pesan agar ia tidak meninggalkan kerajaannya, dan tetap menjadi Datu di Kerajaan Soppeng Rilau.
Namun maksud baik La Mataesso itu ditolak mentah-mentah oleh La Makarodda.
“Bessing passuka, bessing topa pareweka”, artinya: “Saya keluar karena tombak (perang), maka saya pun akan kembali melalui tombak (perang) pula” ujar La Makarodda.
Selesai menjawab permintaan utusan dari La Mattaesso itu, maka iapun bergegas berangkat dengan tujuan Kerajaan Bone.
Tujuannya memlih dan menuju Kerajaan Bone karena berharap Raja Bone saat itu dapat membantunya untuk membalaskan dendamnya terhadap Kerajaan Soppeng Riaja.
Akan tetapi apa yang menjadi harapannya, ternyata tidak terkabulkan, sebab Raja Bone tidak bersedia membantunya.
Alasan penolakan Raja Bone karena hubungannya dengan Soppeng selama ini baik-baik saja sehingga bila Kerajaan Bone memberikan bantuan maka dikemudian hari akan menjadi musuh.
Meskipun permohonannya untuk mendapat bantuan ditolak, namun La Makarodda tetap dipersilahkan tinggal di wilayah Kerajaan Bone.
Pada akhirnya iapun dapat menikahi salah seorang bangsawan Bone yang bernama We Tenripakkuwa, yaitu saudara perempuan dari Raja Bone, Tenrirawe Bongkangnge.
Pasca perkawinan La Makarodda dengan We Tenripakkuwa, datang lagi utusan dari Raja Soppeng Riaja kepada La Makarodda agar ia bersedia kembali untuk memimpin negerinya, yaitu Kerajaan Soppeng Rilau.
Namun ajakan damai yang kedua inipun ditolak, dengan alasan jika ia kembali memerintah di Kerajaan Soppeng Rilau, ia khawatir terjadi lagi perang seperti yang telah terjadi.
Dengan demikian sudah dua kali La Mataesso mengajak saudara sepupunya agar kembali ke daerahnya untuk menjadi pemimpin, namun selalu ditolaknya.
Niat baik itu menggambarkan bahwa sebenarnya La Mataesso tidak pemah dendam kepada saudara sepupunya itu, sebab yang memulai peperangan adalah La Makarodda sendiri.
Kesadaran itu dilakukan La Mataesso sebab kedua kerajaan ini bersaudara dan didirikan oleh leluhur mereka sendiri, yaitu Tomanurung di Sekkanyili dan Tomanurung di Goarie, Libureng.
Namun pada akhirnya, benih perdamaian antara keduanya muncul. Saat itu justru La Makarodda sendiri yang menawarkan perundingan dengan La Mataesso.
Kuat dugaan, latar belakang keinginan La Makarodda untuk berunding dengan La Mataesso adalah pertama, sebab pada kenyataannya tidak ada satu kerajaan dalam wilayah tanah Bone yang bersedia membantu dan bersekutu untuk menggempur Kerajaan Soppeng Riaja. Kedua, karena ia sendiri sudah merasa rindu akan saudara dan keluarganya serta tanah tumpah darahnya yaitu Kerajaan Soppeng Rilau.
Dalam pertemuan itu, La Makarodda lantas mengucapkan sumpah dan berjanji bahwa tidak akan mengulangi perbuatannya yang sudah lalu, dan berniat tidak baik terhadap Kerajaan Soppeng Riaja.
Selain itu, La Makarodda juga bermohon agar kiranya diperkenankan menetap di wilayah Kerajaan Soppeng Rilau tanpa memegang jabatan dan kedudukan apapun juga.
Ia juga berpesan kepada seluruh keturunannya supaya tidak lagi menginginkan untuk menjadi Raja pada kedua kerajaan tersebut.
Setelah mengucapkan janji dan sumpahnya, La Mataesso lalu menjabat tangan La Makarodda dan berkata, “Kecuali bila terjadi ikatan tali perkawinan di antara anak cucu kita kelak”.
Setelah selesai sumpah dan janji diucapkan oleh La Makarodda, selanjutnya dilakukan upacara Mallamung Patae sebagai simbol ikatan perjanjian persahabatan antara La Mataesso dan La Makarodda.

Mereka berdua lalu menanam batu secara bersama-sama dan mengucapkan janji, “Barang siapa di antara kita ada yang ingkar janji, maka akan ditindih oleh batu itu, serta tidak akan mendapat kebaikan sampai kepada anak keturunan kita”.
Dengan selesainya janji tersebut, maka Kerajaan Soppeng dengan satu pemimpin satu rakyat telah berdiri, yaitu berintegrasinya dua kerajaan kembar yang disebut Kerajaan Soppeng Riaja dan Kerajaan Soppeng Rilau.
Berdirinya Kerajaan Soppeng satu raja satu rakyat, maka diangkatlah La Mataesso sebagai datu Soppeng yang pertama. Sedangkan La Makarodda diangkat pula sebagai Perdana Menteri.
Setelah kedua kerajaan itu berintegrasi, maka pusat pemerintahan dipindahkan ke Laleng Benteng. (id)
Sumber :
• Buku Soppeng Dari Tomanurung Hingga Penjajahan Belanda
• Jurnal Penelitian Budaya Politik Kerajaan Soppeng: dari To Manurung sampai pada integrasi pemerintahan La Mata Esso pada tahun 1575







Komentar