Curah Hujan Ideal yang Bisa Selamatkan Pertanian di Soppeng?

DBS NEWS, SOPPENG – Hujan yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Soppeng pada 11-12 September kemarin ternyata hanya masuk dalam kategori curah hujan rendah.

Data yang berhasil dihimpun, curah hujan di Kecamatan Marioriawa saat itu hanya berkisar 7 milimeter (mm), kemudian Donri-Donri 4 mm, Ganra 5 mm, Lilirilau 12 mm, Lalabata 4 mm, Citta 3 mm, Liliriaja 10 mm, dan Marioriwawo 14 mm.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Ketahanan Pangan (TPHPKP) Kabupaten Soppeng, Fajar menyebut, jika dirata-ratakan curah hujan di hari itu hanya berkisar antara 7,7 mm.

“Meskipun hujan, bukan berarti El Nino sudah berakhir. Curah hujan kemarin itu termasuk rendah sekali, rata-ratanya cuma 7,7 milimeter,” ujar Fajar, Kamis (14/9/2023).

Menurut Fajar, hujan yang terjadi saat itu hanya menambah persediaan air dalam tanah dan debit air sungai serta sumur.

Curah hujan yang rendah itu justru bisa berdampak buruk bagi tanaman, pasalnya akan mengakibatkan kerusakan lebih cepat.

“Tanaman yang sudah mau layu permanen, namun terkena hujan begitu, kemudian kena lagi matahari, itu yang lebih cepat rusak.”

“Padahal tanaman sebelum mati layu permanen masih bisa diselamatkan selama masih cukup airnya, meskipun tidak maksimal hasil produksinya,” ungkap Fajar.

Untuk menyelamatkan tanaman pertanian di Kabupaten Soppeng saat ini, menurut Fajar, setidaknya dibutuhkan curah hujan di atas 100 mm.

“Harus di atas 100 milimeter dan harus continue alias jangan hanya sekali,” tandasnya. (id)

Komentar