DBS NEWS, SOPPENG – Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Ketahanan Pangan (TPHPKP) Kabupaten Soppeng mencatat, sebanyak 3 Ribu Ton beras impor asal negara Thailand masuk ke Kabupaten Soppeng sejak September 2023.
“Beras yang kami terima berasal dari negara Thailand karena kualitasnya paling bagus di antara beras impor yang ada,” ujar Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas TPHPKP Kabupaten Soppeng, Suhardiman, Senin (1/4/2024).
Beras-beras impor itu selanjutnya digunakan untuk keperluan bantuan sosial pangan dan juga komersil untuk pengisian toko dan kios pangan.
“Sudah sejak september tersalur melalui bantuan beras pangan dan pengisian kios pangan dan toko ritel modern dan tradisional,” Imbuh Suhardiman.
Untuk bantuan beras pangan ke seluruh Desa/Kelurahan di Kabupaten Soppeng, total beras yang disalurkan mencapai 208 ton per bulan, di mana setiap Kepala Keluarga (KK) menerima bantuan 10 kg.
“Namun untuk data penyaluran beras SPHP ke kios dan toko ritel modern dan tradisional, itu yang belum kami punya datanya dari bulog,” beber Suhardiman.
Menurut Suhardiman, impor beras ini harus dilakukan mengingat stok beras di Bulog yang sudah sangat minim akibat berkurangnya produksi beras dampak El Nino.
Kondisi ini diperparah karena Bulog tidak dapat memaksimalkan penyerapan beras lokal karena mahalnya harga.
Untuk diketahui, kebutuhan beras masyarakat Soppeng saat ini ada di kisaran 25 ribu-30 ribu ton per tahun.
“Dari hasil survey di tingkat penggilingan juga stoknya sudah tidak seberapa akibat el-nino yang menyebabkan penurunan produksi, di sisi lain bulog harus menyiapkan cadangan beras.”
“Untuk menyiapkan beras melalui beras lokal tahun lalu harganya terlalu mahal (diatas HPP) sementara pemerintah sudah menetapkan harga acuan untuk digunakan melalukan pembelian (serap).”
“Akibatnya, bulog tidak dapat memaksimalkan penyerapan beras lokal sehingga solusinya impor untuk menjamin ketersediaan pangan,” urai Suhardiman.
Impor beras ini tidak hanya terjadi di Kabupaten Soppeng, namun hampir di semua daerah di Indonesia mengalami hal yang sama.
Soppeng bahkan menurut Suhardiman menjadi daerah terakhir yang menerima beras impor, karena pemerintah daerah saat itu masih yakin produksi beras akan mencukupi untuk diserap guna dijadikan cadangan beras pemerintah.
“Namun ternyata ketersediaan beras saat itu memang sudah berkurang dan harga di lapangan juga agak mahal.”
“Saat ini bahkan sudah tidak ada stok beras yang bisa diserap di kabupaten Soppeng, semuanya beras impor.”
“Namun nanti bulan april dan mei diharapkan sudah ada serapan dari beras lokal soppeng karena sudah ada produksi selama harga masih sesuai harga HPP yang ada di bulog,” kata Suhardiman. (id)







Komentar