Ket.foto : Ilustrasi Masyarakat di wilayah kekeringan (Google Images)
DBS NEWS, SOPPENG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Soppeng mencatat, terdapat 17 Desa/Kelurahan yang saat ini masuk kategori wilayah dengan tingkat ancaman bencana kekeringan tinggi.
Ke-17 Desa/Kelurahan ini yaitu, Abbanuange, Baringeng, Masing, Palangiseng, Parenring, Tetewatu, Labae, Pising, Enrekang, Botto, Congko, Gattareng, Tettikenrarae, Watu Toa, Kaca, Laringgi dan Panincong.
Jika berdasarkan jumlah penduduk menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Soppeng, maka total ada sebanyak 55.158 orang yang tercatat tinggal atau berdomisili di wilayah tersebut.
Dengan rincian, 3.365 orang tinggal di Abbanuange, 5.612 orang di Baringeng, 2.195 orang di Masing, 1.782 orang di Palangiseng, 1.886 orang di Parenring, 1.450 orang di Tetewatu, 2.005 orang di Labae, 2.590 orang di Pising.
Kemudian, 1.844 orang di Enrekeng, 4.982 orang di Botto, 2.657 orang di Congko, 3.166 orang di Gattareng, 7.447 orang di Tettikenrarae, 4.277 orang di Watu Toa, 2.541 orang di Kaca, 3.597 orang di Laringgi dan 3.762 orang di Panincong.
Sementara itu Kepala BPBD Kabupaten Soppeng, Shahrani menyebut, beragam upaya telah disiapkan dalam penanggulangan kekeringan di wilayah Kabupaten Soppeng, salah satunya dengan penyediaan air bersih bagi masyarakat yang terdampak.
“Upaya BPBD, melakukan koordinasi dengan instansi terkait seperti Damkar dan PDAM dalam hal penyediaan air bersih, hal ini disebabkan sarana mobil tangki saat ini tidak dimiliki BPBD,” ujar Shahrani, Jumat (21/6/2024).
Sekedar diketahui, dilansir dari laman bpbd.bogorkab.go.id, setidaknya ada lima faktor penyebab terjadinya kekeringan, faktor ini diantaranya :
1. Minim Daerah Resapan
Alih fungsi lahan terbuka hijau yang digunakan sebagai bangunan tempat tinggal mempengaruhi kondisi dari cadangan air di tanah. Wajar saja, ketika tanah yang mampu menyerap air hujan harus tertutup oleh beton yang mengakibatkan air tidak dapat meresap ke dalam tanah. Semakin sedikitnya cadangan air dalam tanah akan memberi dampak buruk berupa bencana kekeringan.
2. Boros Air
Boros dalam penggunaan air tanah ternyata berimbas pada kekeringan di beberapa daerah. Dampak boros air tersebut semakin parah ketika kemarau tiba. Biasanya, penggunaan air berlebihan ini bisa disebabkan kebiasaan menggunakan air untuk rumah tangga yang berlebihan atau penggunaan air dalam jumlah besar oleh para petani untuk mengairi sawah. Jika dilakukan terus menerus akan berdampak pada habisnya cadangan air.
3. Curah Hujan Rendah
Salah satu penyebab terjadinya kekeringan yang umum terjadi di Indonesia disebabkan oleh perubahan iklim yang membuat hujan menjadi jarang turun. Rendahnya curah hujan tersebut diakibatkan rendahnya tingkat produksi uap air dan awan. Apabila sangat hujan yang turun sangat sedikit, maka musim kemarau akan menjadi semakin lama dan kekeringan akan melanda.
4. Kerusakan Hidrologis
Kerusakan hidrologis yaitu kerusakan fungsi dari wilayah hulu sungai karena waduk dan pada bagian saluran irigasinya terisi sedimen dalam jumlah yang sangat besar. Akibatnya, kapasitas dan daya tampung air akan berkurang sangat drastis dan hal tersebut akan memicu timbulnya kekeringan saat datangnya musim kemarau.
5. Global Warming
Global warming atau yang berarti pemanasan secara global, memang telah menjadi penyebab terjadinya kekeringan terbesar tidak hanya di Indonesia, namun hampir di seluruh dunia. Memang, penyebab dari timbulnya Global Warming sangat beragam, mulai dari polusi kendaraan dan pabrik, hingga penggunaan berbagai zat kimia berbahaya.
(id)







Komentar