Istimewa
DBS NEWS, SOPPENG – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Soppeng memetakan persebaran wilayah di Kabupaten Soppeng yang memiliki aktivitas potensial penyumbang emisi gas rumah kaca.
Dalam laporan Statistik Potensi Desa 2025 yang dirilis pada 6 Februari 2026, sektor transportasi, pertanian, dan pengelolaan sampah menjadi aktivitas krusial sebaran emisi di tingkat desa dan kelurahan.
Sektor transportasi menjadi yang paling dominan dengan 70 desa/kelurahan mencatatkan keberadaan kendaraan bermotor roda empat atau lebih.
Kecamatan Marioriwawo menjadi wilayah dengan sebaran tertinggi sebanyak 13 desa/kelurahan, diikuti oleh Lilirilau dengan 12 desa/kelurahan.
Kondisi ini menunjukkan tingginya ketergantungan pada kendaraan pribadi yang menjadi sumber emisi karbon di wilayah tersebut.
Di sektor pertanian, sebanyak 48 desa/kelurahan teridentifikasi memiliki aktivitas penggunaan pupuk kimia dan pestisida.
Aktivitas ini merupakan sumber pelepasan gas rumah kaca ke atmosfer, dengan sebaran terbanyak berada di Kecamatan Lilirilau (10 desa/kelurahan), serta Marioriwawo (8 desa/kelurahan).
Selain itu, laporan ini juga mencatat adanya aktivitas pembakaran dan pembuangan sampah di tempat ilegal yang rutin terjadi di 14 desa/kelurahan.
Kecamatan Marioriwawo kembali mencatatkan angka tertinggi untuk kategori ini dengan 7 desa/kelurahan.
Kecamatan Marioriwawo juga menjadi wilayah dengan aktivitas penggundulan hutan untuk permukiman dan tambang terbanyak, yakni di 6 Desa/Kelurahan.


Sekedar diketahui, dampak emisi gas rumah kaca adalah ketidakseimbangan suhu bumi yang memicu berbagai bencana alam dan mengancam kelangsungan hidup manusia.







Komentar