Ilustrasi
DBS NEWS, SOPPENG – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru mengenai jumlah desa/kelurahan di Kabupaten Soppeng yang terdampak fenomena perubahan iklim sepanjang tahun 2025.
Dalam laporan Statistik Potensi Desa 2025 yang dipublikasikan pada 6 Februari 2026, sektor pertanian dan kesehatan masyarakat menjadi aspek yang paling banyak terdampak akibat kondisi cuaca ekstrem.
Data menunjukkan bahwa sebanyak 34 desa/kelurahan melaporkan terjadinya gagal panen, kerusakan tanaman, hingga kematian ternak akibat bencana terkait iklim.
Kecamatan Lilirilau menjadi wilayah dengan dampak terparah pada sektor ini dengan laporan dari 9 desa/kelurahan, disusul oleh Donri-Donri sebanyak 6 desa/kelurahan.
Selain kerugian materil di sektor agraria, perubahan iklim juga memicu peningkatan masalah kesehatan.
Tercatat sebanyak 31 desa/kelurahan melaporkan gangguan kesehatan masyarakat seperti peningkatan kasus Pneumonia, Malaria dan DBD.
Kecamatan Lalabata mencatat angka tertinggi dalam kategori ini dengan 8 desa/kelurahan yang terdampak.
Kesulitan dalam aktivitas bertani dan melaut akibat hama serta cuaca ekstrem juga dilaporkan terjadi di 24 desa/kelurahan, di mana Lilirilau kembali mencatatkan angka tertinggi sebanyak 7 desa/kelurahan.
Sementara itu, masalah kelangkaan air akibat kemarau panjang dirasakan oleh penduduk di 20 desa/kelurahan, dengan konsentrasi dampak terbesar di wilayah Liliriaja dan Donri-Donri.
Secara keseluruhan, dampak perubahan iklim di Kabupaten Soppeng juga mencakup kerusakan rumah atau harta benda di 19 desa/kelurahan, serta kehilangan mata pencaharian yang bergantung pada alam di 9 desa/kelurahan.









Komentar