Brigade Pangan Soppeng Bakal Terima Rp3 Miliar, Solusi Regenerasi atau Potensi Beban Aset?

Ilustrasi

DBS NEWS, SOPPENG – Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Ketahanan Pangan (TPHPKP) Kabupaten Soppeng terus mendorong upaya regenerasi petani melalui program Brigade Pangan.

Brigade Pangan adalah kelompok usaha tani yang beranggotakan petani muda atau milenial (19-39 tahun) yang difokuskan pada penerapan teknologi modern untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan.

Kepala Dinas TPHPKP Soppeng, Ariyadin Arif menyebut, saat ini telah terbentuk 16 kelompok Brigade Pangan yang tersebar di delapan Kecamatan di Kabupaten Soppeng.

“Setiap kelompok Brigade Pangan beranggotakan 15 orang, setiap kelompok telah memiliki lahan pertanian sendiri,” ujar Ariyadin, Selasa (20/1/2026).

Masing-masing kelompok Brigade Pangan nantinya akan menerima bantuan dari Kementerian Pertanian (Kementan) RI senilai Rp3 miliar.

Bantuan tersebut diberikan dalam bentuk alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk menunjang kegiatan pertanian yang lebih efisien.

“Bantuannya bukan dalam bentuk uang tapi alsintan. Saat ini masih menunggu bantuannya disalurkan,” ujar Ariyadin.

Kini, publik menunggu pembuktian dari 16 kelompok Brigade Pangan tersebut kedepannya. Apakah mereka mampu menjadi solusi regenerasi petani atau justru menjadi beban dalam pengelolaan aset negara di Kabupaten Soppeng.

Diberitakan sebelumnya, sektor pertanian di Kabupaten Soppeng menghadapi ancaman terkait keberlanjutan tenaga kerja produktif di masa depan.

Hal ini berdasarkan analisis yang dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Soppeng pada 31 Desember 2025.

Menurut BPS, jumlah petani tua di Kabupaten Soppeng saat ini jauh mendominasi dibandingkan ketersediaan petani muda.

Jumlah petani berusia lanjut atau 55 tahun ke atas di Kabupaten Soppeng ada sebanyak 14.672 orang.

Sebaliknya, partisipasi generasi muda justru terlihat minim, dimana jumlah petani milenial atau usia 15-34 tahun hanya mencapai 3.940 orang.

Sementara itu, jumlah petani usia 35-44 ada sebanyak 7.075 orang dan petani usia 45-54 ada sebanyak 10.949 orang.

Bagi BPS, dominasi jumlah petani tua ini bukan sekadar masalah statistik, melainkan alarm bagi keberlanjutan modernisasi pertanian di Kabupaten Soppeng.

Petani berusia lanjut cenderung memiliki keterbatasan dalam mengadopsi teknologi baru, sementara generasi muda yang diharapkan menjadi agen pembaharu justru enggan terlibat.

Rendahnya minat kaum muda sering kali dipicu oleh persepsi bahwa pertanian belum menjanjikan kesejahteraan, stigma sosial, serta hambatan struktural seperti keterbatasan akses modal dan lahan.

“Jika hambatan ini tidak diatasi, Kabupaten Soppeng berpotensi kehilangan momentum untuk mentransformasi pertanian tradisional menuju pertanian modern yang berdaya saing,” tulis BPS dalam publikasinya.

Penulis: Idham

Komentar