Cerita Keluarga di Soppeng: Bapak Antre Pertalite, Ibu Berburu LPG, Anak Menanti Kerja

Ilustrasi

DBS NEWS, SOPPENG – Sinar matahari yang mulai meredup di Bumi Latemmamala semestinya menjadi sinyal bagi Ramli untuk segera kembali ke rumah.

Sebagai seorang abdi negara yang bertugas di salah satu kantor dinas, ia merindukan waktu istirahat bersama keluarga setelah seharian bergulat dengan tumpukan berkas.

Namun, realita ekonomi yang menghimpit memaksa Ramli membelokkan motornya ke SPBU sebelum pulang. Di sana, ia harus antre demi mendapatkan Pertalite.

Ini menjadi harga yang harus dibayarnya agar ia tidak perlu menguras gaji bulanannya untuk membeli BBM non-subsidi yang harganya kian melambung.

“Kadang bisa sampai setengah jam antrenya. Memang sih pertalite belum naik harganya, tapikan jarang ada,” ujarnya, Jumat (17/7/2026).

Di sisi lain, perjuangan Istri Ramli, Aminah, sang ibu rumah tangga, justru sudah dimulai saat fajar menyingsing.

Sejak pagi hari, ia sudah harus “berburu” gas LPG 3 kg ke berbagai pangkalan. Kelangkaan yang kerap melanda Soppeng membuat tabung gas menjadi komoditas yang sulit dijangkau.

Ia rela menghabiskan waktu berjam-jam demi memastikan dapur di rumahnya tetap bisa mengepul.

Baginya, keberhasilan mengamankan satu tabung gas adalah kemenangan krusial agar anggaran belanja dapur tidak terpaksa dialihkan untuk membeli harga pengecer yang jauh lebih tinggi.

“Dapat satu tabung saja sudah Alhamdulillah. Di pengecer harganya sudah tembus Rp40 ribu,” ucapnya.

Sementara itu, di sudut kamar yang sempit, Haeril, putra mereka, sedang bergelut dengan realita kehidupan yang berbeda pasca lulus perguruan tinggi.

Tidak ada job fair atau bursa kerja yang bisa ia datangi di Kabupaten Soppeng untuk sekadar memasukkan lamaran.

Ia memang tidak punya garis antrean fisik untuk diikuti, namun ia terjebak dalam penantian yang tak kalah melelahkan.

Hari-harinya dihabiskan dengan menatap layar ponsel, menyisir setiap celah informasi lowongan kerja di internet, atau bertanya ke sana kemari jika ada kenalan yang membutuhkan tenaga kerja.

“Sekalinya ada lowongan kerja, gajinya nggak seberapa tapi beban kerjanya gila-gilaan. Kita nggak kerja tapi dikerjain. Kayaknya memang harus ditinggalkan ini Soppeng,” ujarnya.

Ketika malam benar-benar menyelimuti Soppeng, ruang tamu di rumah mereka menjadi tempat perjumpaan bagi ketiga pejuang ini.

Namun, pertemuan itu terasa hambar karena energi mereka telah habis terkuras. Tidak ada tawa, hanya ada sisa penat yang menyelimuti suasana.

Bagi keluarga ini, waktu istirahat yang seharusnya menjadi hak mereka justru terenggut oleh rutinitas menunggu dan mencari yang tak berkesudahan.

Mereka adalah potret keluarga yang menolak menyerah di tengah tuntutan hidup yang kian tidak berperasaan.

*Catatan, demi kenyamanan dan keamanan narasumber, seluruh nama sudah diubah dan hanya menggunakan nama samaran.

Komentar