PLT Kepala DPKHP Kabupaten Soppeng, Hisbullah dengan latar foto kondisi terkini Danau Tempe
DBS NEWS, SOPPENG – Data Dinas Peternakan, Kesehatan Hewan dan Perikanan (DPKHP) Kabupaten Soppeng, sebanyak 900 hektare dari total 3.000 hektare luas Danau Tempe yang masuk dalam wilayah Kabupaten Soppeng mengalami kekeringan akibat kemarau panjang.
“Ini merupakan kekeringan terparah yang pernah melanda Danau Tempe. Sisa 2.100 hektare wilayah danau yang masih terpantau berair,” ujar Pelaksana Tugas (PLT) Kepala DPKHP Kabupaten Soppeng, Hisbullah, Selasa (22/9/2026).

Kondisi ini menganggu aktivitas sebagian nelayan di kawasan tersebut. Dari total sekira 300 nelayan yang menggantungkan hidup di Danau Tempe, beberapa di antaranya memilih merantau atau beralih profesi demi menyambung hidup.
“Yang merantau mayoritas memilih hijrah ke luar daerah seperti Kalimantan dan Morowali. Ada juga yang beralih profesi menjadi petani, dengan memanfaatkan lahan di sekitar pesisir danau yang mengering untuk dialihfungsikan menjadi lahan pertanian,” ucap Hisbullah.
Meski menjadi hantaman berat bagi sektor perikanan lokal, Hisbullah menilai ada sejumlah sisi positif di balik kekeringan ekstrem ini.
Pertama, berkurangnya populasi ikan sapu-sapu yang selama ini menjadi hama bagi nelayan, di mana ikan tersebut biasanya berkembang biak di perairan setinggi 50–60 cm dan dipastikan mati dalam kondisi kemarau kering seperti saat ini.
Kedua, kekeringan ini diyakini dapat memicu kemunculan berbagai jenis ikan baru yang lebih produktif saat kondisi danau kembali normal nanti.
Ketiga, peristiwa ini memberikan edukasi serta keterampilan baru bagi masyarakat pesisir dalam mengoptimalkan lahan yang sebelumnya hanya berfokus pada sektor perikanan agar bisa dimanfaatkan untuk bertani.
“Selalu ada hikmah di balik setiap kejadian. Mudah-mudahan Danau Tempe dapat kembali normal dan terisi air sepenuhnya pada bulan November atau Desember mendatang,” ujar Hisbullah.
Penulis: Idham







Komentar