DBS NEWS, NASIONAL – Seorang perawat di Rumah Sakit Al Shifa di Kota Gaza membagikan pengalaman mengerikannya di kala perang kelompok militan Palestina Hamas melawan Israel.
Perawat yang diketahui bernama Abu Emad Hassanein itu, mengaku pernah menjahit luka di kepala seorang gadis kecil tanpa anestesi atau obat bius.
Hassanein menyebut, gadis kecil itu menangis kesakitan sambil berteriak memanggil ibunya. Dirinya pun mengaku hanya bisa memberi pasien tersebut sebuah kain steril untuk digigit.
“Kadang-kadang kami memberi beberapa di antaranya kain kasa steril untuk digigit agar mengurangi rasa sakitnya,” kata Hassanein, yang dikutip DBS News dari Arab News, Rabu (15/11/2023).
Hassanein menuturkan dengan kehabisan stok bius maka korban anak-anak yang terluka pun mesti merasakan sakit lebih dari yang dibayangkan. Dia mencontohkan peristiwa itu banyak dialami anak-anak perempuan dengan luka di kepala.
“Melebihi apa yang dialami orang seusia mereka,” ujar Hassnein.
Hal serupa juga dialami oleh Direktur Rumah Sakit Al Shifa, Muhammad Abdul Salmeya yang menyebut bahwa, banyaknya orang yang terluka membuat pihaknya tidak memiliki banyak pilihan.
Ia mengaku pernah merawat korban luka di lantai tanpa bius yang memadai.
“Hal itu terjadi usai terjadi ledakan, kala itu ada 250 orang yang terluka tiba di Rumah Sakit Al Shifa sementara rumah sakit tersebut hanya memiliki 12 ruang operasi,” ujarnya.
Diketahui, Kelangkaan obat bius atau pereda nyeri di Rumah-Rumah Sakit di Gaza dimulai terjadi sejak sebulan lalu.
Hal itu terjadi akibat blokade Israel yang memutus pasokan listrik, makanan dan barang kebutuhan pokok lainnya di wilayah tersebut.
Di sisi lain, serangan Israel makin membabi buta, pasalnya Israel turut menyerang rumah sakit yang dituding sebagai markas Hamas.
Terbaru, Israel kembali menyerang salah satu kompleks rumah sakit di Gaza lantaran hal tersebut, namun pihak Rumah Sakit dan kelompok Hamas telah menyangkal klaim sepihak Israel.
Sementara itu hingga 15 November 2023, jumlah korban tewas dari pihak Palestina telah mencapai lebih dari 11.320 orang, yang mana 4.650 diantaranya adalah anak-anak dan 3.145 perempuan.







Komentar