Peneliti Makassar Ungkap Korelasi “Dompet Kosong” dengan Kasus Hipertensi Warga Soppeng

Ilustrasi

DBS NEWS, SOPPENG – Tim Peneliti dari Makassar menemukan fakta hubungan antara pendapatan dengan kasus hipertensi di Kabupaten Soppeng.

Tim peneliti ini terdiri dari Musfirah dari Departemen Epidemiologi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Tamalatea Makassar dan Masriadi dari Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia.

Hasil penelitian keduanya selanjutnya dipublish oleh Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Institut Kesehatan Helvetia, pada 5 Juli tahun 2022.

Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Takalala, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng pada tahun 2018. Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah jumlah kunjungan pasien dalam setahun di Puskesmas Takalala yang berjumlah 10.460 pasien, dengan menggunakan rumus lemeshow, maka dalam penelitian ini sampel ditetapkan kasus sebanyak 68 sampel dan kontrol sebanyak 68 sampel.

Berdasarkan penelitian ini didapatkan fakta bahwa hipertensi banyak terdapat pada kelompok berpendapatan rendah dibanding pendapatan tinggi.

Dari 68 responden yang menderita hipertensi, terdapat 44 (64,7%) yang berpendapatan rendah dan 24 (35,3%) yang berpendapatan tinggi.

Sedangkan dari 68 responden yang tidak menderita hipertensi, terdapat 27 (39,7%) responden yang berpendapatan tinggi dan yang berpendapatan rendah terdapat 41(60,3%).

“Hal ini dikarenakan faktor kurangnya biaya untuk memeriksakan diri secara teratur serta tekanan psikologis berkaitan dengan himpitan ekonomi,” tulis kedua peneliti yang dikutip DBS News, Jumat (26/8/2022).

Selain itu, menurut penelitian keduanya, penyakit hipertensi yang diderita masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Takalala sering kambuh karena masyarakat tidak pernah memperhatikan asupan makanan setiap harinya dikarenakan pendapatan yang kurang untuk memperoleh makanan yang bergizi.

“Tingkat sosial ekonomi yang rendah dapat menjadi faktor risiko hipertensi. Kebanyakan dari mereka merupakan masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah, yang lebih banyak menggunakan penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan pokok daripada memeriksakan kesehatan,”

“Meskipun telah mengetahui bahwa dirinya menderita hipertensi, mereka mengabaikan nasihat dari petugas kesehatan tentang pengobatan hipertensi, karena kecenderungan orang-orang ini yang hidup sendiri dan daya ingatnya sudah mulai menurun,” tulis Musfirah dan Masriadi dalam penelitiannya.

Selain faktor pendapatan, hasil penelitian keduanya juga menyebutkan bahwa ada hubungan faktor riwayat keluarga, pendidikan dan aktifitas fisik dengan kejadian hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Takalala.

Sekedar diketahui, hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan kondisi ketika seseorang mengalami kenaikan tekanan darah baik secara lambat atau mendadak.

Menurut WHO, penyakit tidak menular ini telah menjadi penyebab kematian terbesar di dunia. Disebutkan bahwa hampir 17 juta orang meninggal lebih awal tiap tahunnya sebagai akibat epidemik penyakit tidak menular. Pada tahun 2025 nanti, angka ini kemungkinan akan meningkat menjadi 29,2%. (id)

Komentar