Brigjen TNI M. Jusuf, Panglima Operasi Kilat (kiri) berunding dengan Kahar Muzakkar, pemimpin DI/TII (tengah memakai topi). Kahar gagal dibujuk untuk turun gunung dan meneruskan gerakannya sampai dia ditembak mati (Sumber Foto : Buku Jenderal M. Jusuf: Panglima Para Prajurit)
DBS NEWS, SOPPENG – Tahun 1965 dikenal sebagai tahun terjadinya peristiwa pemberontakan G30S PKI atau gerakan 30 September yang dilancarkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).
Namun tahukah anda?, Bahwa ada peristiwa lain yang terjadi di tahun tersebut, yaitu berakhirnya pemberontakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) di Kabupaten Soppeng.
Gerakan Pemberontakan DI/TII merupakan salah satu pemberontakan yang paling terkenal setelah G30S PKI.
Pemberontakan DI/TII ini cukup sulit ditumpas karena tersebar di berbagai wilayah, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Aceh dan Sulawesi Selatan.
Di Sulawesi Selatan, Pemberontakan DI/TII dimulai pada tahun 1950 dengan dilatarbelakangi kekecewaan Kahar Muzakar karena pasukannya yang tergabung dalam Komando Griliya tidak dimasukkan ke dalam Angkatan Perang Republik Indonesia (APRIS).
Berakhirnya Pemberontakan DI/TII di Soppeng ditandai dengan tewasnya Kahar Muzakkar pada Februari 1965.
Dilansir dari berbagai sumber, gerakan pemberotakan DI/TII di Kabupaten Soppeng menjadikan Desa Citta sebagai lokasi basis gerakan.
Citta dipilih karena letaknya yang strategis karena mempunyai kriteria yang mendukung untuk perang gerilya. Citta mempunyai medan yang bergunung, berbukit-bukit dan hutan-hutan yang lebat.
Bahkan ketika tentara ingin pergi ke Citta, mereka harus melewati Sungai Walennae yang terdapat di Desa Pacongkang dengan menggunakan pincara atau semacam perahu, karena belum ada jembatan penyeberangan untuk melewati sungai tersebut.
Sungai tersebut terdapat banyak buaya sehingga tentara takut untuk melewati sungai itu. Jadi, pasukan DI/TII yang ada di Citta bisa mengetahui dan bersiap-siap apabila ada serangan dari tentara.
Namun selain lokasinya yang strategis, pemilihan Desa Citta sebagai lokasi pangkalan, juga karena Citta merupakan tempat kelahiran pemimpin DI/TII di Kabupaten Soppeng yaitu Bahar Mattalioe.
Keberadaan Bahar Mattaloie dinilai bisa mendapatkan dukungan dari masyarakat Citta sekaligus menjaga persediaan bahan logistik lebih mudah.
Namun alih-alih mendapat dukungan, gerakan Bahar Mattaloie dan pasukan DI/TII-nya justru meresahkan masyarakat dikarenakan penjarahan dan pembakaran rumah-rumah warga yang membuat masyarakat merasa tidak aman atas terror-teror yang terus terjadi.
Dibantu oleh beberapa kepala kampung yang bergabung dalam pasukan yang di sebut Gerombolan atau Gurilla ini, Bahar Mattaloie semakin leluasa melakukan penculikan, pembakaran dan perampokan.
Para kelompok gerombolan ini bahkan menyiksa dan membunuh masyarakat yang dicurigai mata-mata, sedangkan warga yang mereka culik dijadikan tentara DI/TII atau anggota gerombolan.
Kelakuan para gerombolan ini sangat meresahkan masyarakat, seperti yang terjadi di Kampung Laguliling dan Kampung Madello pada 16 Juni 1952, dimana terjadi perampokan dan pembunuhan yang dilakukan oleh gerombolan di bawah pimpinan Abdul Karim dari Lajjoa.
Maka tidak heran, Perintah penumpasan kelompok itu datang langsung dari Presiden, yang diiringi perintah menangkap pemimpinnya, Kahar Muzakkar, hidup atau mati.
Namun, diperlukan waktu yang cukup lama bagi operasi militer tersebut membekuk Kahar Muzakkar dan menghentikan pemberontakan di seluruh Sulawesi Selatan.
Pasukan yang berhasil menghentikan Kahar Muzakkar itu berasal dari Peleton 1 Kompi D Batalyon 330/Kujang Siliwangi, yang dikomandani Peltu Umar Sumarna.
Peleton tersebut adalah bagian dari operasi kilat dengan misi khusus menumpas gerakan DII/TII pimpinan Kahar Muzakkar, di mana jumlah pasukan tak lebih dari 30 orang.
Beberapa hari sebelumnya, mereka telah memperoleh informasi valid tentang persembunyian Kahar Muzakkar.
Pada 3 februari 1965, tanpa sempat diketahuinya, Kahar Muzakkar telah dikepung oleh sepeleton pasukan di tengah hutan seberang Sungai Lasolo di wilayah Sulawesi Tenggara.
Hari itu pemimpin DI/TII Sulawesi Selatan terjepit. Seluruh pasukan yang dipimpin Peltu Umar yang bergerak sebelum subuh telah bersiaga pada posisi masing-masing.
Dari sebuah gubuk di arah utara, terdengar sayup alunan lagu. Itu dapat dipastikan berasal dari radio milik Kahar Muzakkar karena sebelumnya telah didapat informasi bahwa di perkubuan itu hanya dia yang memiliki radio transistor.
Hingga menjelang terang, beberapa orang nampak keluar dari gubuk-gubuk perkubuan.
Tembakan dilepaskan dari arah pasukan pengepung membuat seseorang sekonyong-konyong keluar dari gubuk di sebelah utara, di tangannya tergenggam sebuah granat.
Pergerakan itu dilihat oleh Wakil Komandan Regu, Kopral Dua Ili Sadeli, yang tanpa mau membuang waktu dan mengambil resiko langsung melepaskan tembakan.
Tembakan sang kopral tepat mengenai dada orang itu membuatnya seketika tersungkur jatuh meregang nyawa.
Situasi mencekam itu tak berlangsung lama. Tak ada perlawanan berarti terhadap pasukan Siliwangi. Berikutnya tinggallah gelimpangan mayat yang tersisa.
Kemudian hasil identifikasi memastikan Kahar Muzakkar berada di antar orang-orang itu. Dialah sosok pembawa granat tangan yang tertembak oleh Kopral Dua Ili Sadeli.
Tanggal 3 Februari 1965, hari di mana kelompok pemberontakan DI/TII Sulawesi Selatan diberantas dan pemimpinnya tewas, bertepatan dengan hari Raya Idul Fitri tahun itu.







Komentar