DBS NEWS, SOPPENG – Beberapa waktu lalu kita dihebohkan dengan laporan dari United Nations Children’s Fund (UNICEF) yang menyebutkan bahwa hampir 70 persen sumber air minum di Indonesia telah tercemar tinja.
Kondisi tersebut turut menyebabkan penyebaran penyakit diare yang tentu saja menjadi ancaman tersendiri bagi keselamatan anak-anak di Indonesia.
Namun jauh sebelum itu, di tahun 2020, hasil studi Survei Kualitas Air Minum (SKAM) yang dilakukan Kementerian Kesehatan mencatat, bahwa 7 dari 10 rumah tangga Indonesia mengonsumsi air minum yang terkontaminasi e-coli.
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) Kemkes, Doddy Izwardy mengatakan, studi ini memperlihatkan 31,1 persen rumah tangga di Indonesia mengkonsumi air isi ulang.
Lalu, 15,9 persen dari sumur gali terlindungi, 14,1 persen dari sumur bor atau pompa, 13,1 persen dari air ledeng, 10,7 persen dari air kemasan, 4,2 persen dari mata air terlindungi, 3,8 persen dari sumur yang tak terlindungi, 2,5 persen dari mata air yang tidak terlindungi.
Sisanya, 2,3 persen dari penampungan air hujan, 1,4 persen air dibeli eceran, 0,6 persen air permukaan, 0,3 air di terminal.
“Bakteri e-coli banyak di sumur yang tak terlindungi, mata air tak terlindungi, serta air permukaan,” ungkap Doddy Izwardy.
Lalu bagaimana dengan Kabupaten Soppeng?, seperti apa sumber air minum rumah tangga di daerah tersebut?.
Data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional, Pada tahun 2020, ada sebanyak 92,69 persen rumah tangga di Kabupaten Soppeng yang menggunakan air bersih untuk kebutuhan minumnya.
Angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2019 yang mencapai 95,11 persen.
Apabila dirinci menurut jenis sumber air minumnya, pada tahun 2020, Sebanyak 41,87 persen dari total rumah tangga di Kabupaten Soppeng menggunakan sumur bor atau pompa sebagai sumber air minum utama.
Lalu, 14,97 persen dari air sumur terlindungi, 14,18 persen dari air isi ulang, 12,30 persen dari air ledeng, 8,95 Persen dari mata air terlindungi, 4,41 persen dari air permukaan.
Sisanya, 1,79 persen dari mata air tidak terlindungi, 1,1 persen dari sumur tidak terlindungi dan 0,36 persen dari air kemasan. (id)







Komentar