DBS NEWS, NASIONAL – Penelitian yang dilakukan oleh University of Queensland Australia dan Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health Amerika Serikat (AS), menemukan bahwa 1 dari 20 (sekitar 5.5%) remaja di Indonesia terdiagnosis memiliki gangguan mental.
Dilansir dari The Conversation, jenis gangguan mental yang paling umum terjadi pada remaja 10-17 tahun di Indonesia ini adalah Gangguan kecemasan (Anxiety Disorder) sekitar 3,7%.
Lalu disusul oleh gangguan depresi mayor (1,0%), gangguan perilaku (0,9%), serta gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD) yang masing-masing diderita oleh 0,5% populasi usia tersebut.
Gangguan kecemasan (Anxiety Disorder) terdiri dari dua jenis, yaitu Fobia Sosial dan Gangguan Kecemasan Menyeluruh.
Fobia Sosial adalah ketakutan berlebih secara khusus terhadap situasi sosial seperti presentasi di depan kelas, sedangkan Gangguan Kecemasan Menyeluruh adalah kecemasan berlebihan terkait beberapa kejadian atau aktivitas, misalnya mengenai ujian yang akan berlangsung.
Gangguan kecemasan ini bisa timbul akibat gabungan berbagai faktor, mulai dari genetik, sistem syaraf, keluarga, dan lingkungan sekitar.
Di saat seseorang gagal meregulasi stres yang ia alami, hal ini dapat muncul sebagai gangguan kecemasan.
Gangguan kecemasan tergolong sebagai gangguan mental yang umum diderita. Tapi, bukan berarti gangguan ini bersifat ringan.
Menurut Terri Barrera dan Peter Norton, Peneliti Psikologi dari University of Houston AS, orang-orang yang menderita fobia sosial atau gangguan kecemasan menyeluruh cenderung memiliki kualitas hidup, dari kepercayaan diri, kepuasan finansial, hingga kehidupan asmara, yang lebih buruk dibandingkan orang-orang tanpa kondisi ini.
Remaja yang menderita gangguan cemas akan cenderung mengalami gangguan fungsi, setidaknya pada satu ranah kehidupan mereka.
Di antara remaja Indonesia yang mengalami gangguan mental, sebanyak 83,9% mengalami gangguan fungsi pada ranah keluarga, disusul oleh ranah teman sebaya (62,1%), sekolah atau pekerjaan (58,1%), dan distres personal (46,0%).







Komentar