Keluarga Berisiko Stunting Capai 3,9 Ribu

Kepala DP3AP2KB Kabupaten Soppeng, Andi Husniati

DBS NEWS, SOPPENG – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Soppeng mencatat, ada 3.951 keluarga berisiko stunting di Kabupaten Soppeng di tahun 2022.

Stunting adalah masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan pada anak.

Kepala DP3AP2KB Kabupaten Soppeng, Andi Husniati menyebut ada beberapa indikator untuk menetapkan keluarga berisiko stunting.

Indikator pertama yaitu, faktor fasilitas lingkungan yang tidak sehat, dimana keluarga tidak mempunyai sumber air minum utama yang layak dan keluarga tidak mempunyai jamban yang layak.

Indikator kedua yaitu, faktor Pasangan Usia Subur (PUS) yang terdiri dari, umur istri yang terlalu muda saat melahirkan (20 tahun ke bawah), istri terlalu tua saat melahirkan (35 tahun ke atas), jarak kelahiran yang terlalu dekat dan anak yang terlalu banyak.

“Mereka belum terkena stunting, hanya beresiko. Ada ahli dan pakar kesehatan yang nantinya akan menentukan apakah mereka terkena stunting atau tidak,” ujar Andi Husniati, Jumat (7/10/2022)

DP3AP2KB Soppeng saat ini terus melakukan kunjungan lapangan dengan menyasar keluarga-keluarga beresiko stunting seperti calon pengantin, ibu hamil, ibu pasca persalinan, baduta dan balita di sejumlah Desa dan Kelurahan.

Terbaru, DP3AP2KB melakukan kunjungan ke Bila, Pattojo, Rompegading, Lompulle dan Panincong.

“Kami terus melakukan pendampingan terhadap keluarga beresiko stunting ini dengan mengerahkan para penyuluh dan kader yang bertugas dari rumah ke rumah,” ungkap Andi Husniati. (id)

Komentar