DBS NEWS, SOPPENG – Penerimaan masyarakat Soppeng terhadap mantan narapidana masih sulit dilepaskan dari stigma atau label negatif.
Hal ini dibuktikan dari penelitian yang dilakukan oleh tiga Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Makassar, Muthiah Rahmi, Heri Tahir dan Abdul Rahman.
Dalam penelitian yang dilakukan di Kecamatan Ganra, mengungkap bahwa masyarakat masih butuh waktu cukup lama untuk bisa menyesuaikan diri terhadap mantan narapidana.
“Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya karena masyarakat menganggap bahwa mantan narapidana yang sudah bebas atau keluar dari penjara tetaplah orang yang cacat sosial karena tindakan pidana yang pernah dilakukannya,” tulis para peneliti yang dikutip DBS News, Sabtu (8/10/2022).
Konstruksi negatif masyarakat terhadap mantan narapidana tersebut menjadi latar belakang utama fenomena ini muncul. Adanya fenomena tersebut pun menimbulkan masalah lain yang merugikan kedua pihak.
Mantan narapidana seakan tidak diberikan kesempatan lagi oleh masyarakat untuk berubah jadi lebih baik. Padahal mantan narapidana sangat membutuhkan penerimaan dari masyarakat.
Tanpa penerimaan, narapidana justru bisa kembali melakukan hal-hal negatif yang merugikan masyarakat itu sendiri. Namun, dengan penerimaan dari keluarga dan masyarakat, mantan narapidana bisa diberdayakan.
Hasil penelitian tersebut juga mengungkapkan, bahwa mantan narapidana setelah keluar dari rumah tahanan sebenarnya juga merasa takut dan malu, perasaan yang menyiksa diri seperti kesepian, perasaan tidak berguna, disepelekan dan perasaan malu atas perbuatan yang pernah dilakukannya.
“Mantan narapidana juga ingin diperhatikan sebagaimana hubungan sesama masyarakat, mereka tidak mengharapkan sesuatu yang lebih karena mereka tahu kesalahan yang pernah dilakukan. Oleh karena itu harus ditanamkan pada diri masyarkat bahwa setiap mantan narapidana juga merupakan makhluk sosial yang sangat membutuhkan kehadiran orang lain,”
“Kebutuhan bersosialisasi merupakan kebutuhan dasar manusia setelah kebutuhan fisiologis dan kebutuhan rasa aman. interaksi dari lingkungan di sekitar dapat mengurangi rasa tidak nyaman yang dialaminya,” tulis para peneliti. (id)







Komentar