DBS NEWS, SOPPENG – Jenjang pendidikan yang tinggi ternyata tidak menjadi jaminan untuk mudah mendapatkan pekerjaan.
Di Kabupaten Soppeng misalnya, mereka yang tamatan atau hanya pernah mengenyam pendidikan di tingkat Sekolah Dasar (SD) justru lebih mudah mendapatkan pekerjaan dibandingkan mereka yang tamatan perguruan tinggi.
Hal ini dibuktikan dari hasil Survei Angkatan kerja Nasional (Sakernas) dari tahun 2019 hingga 2021.
Di tahun 2019, dari total 100.165 orang angkatan kerja, sebanyak 47.086 orang diantaranya hanyalah tamatan Sekolah Dasar. Dimana 46.677 orang atau 99,13 persen berhasil mendapatkan pekerjaan dan hanya 400 orang yang menganggur.
Sedangkan mereka yang menyandang status tamatan Perguruan Tinggi jumlahnya 17.149 orang, dengan 15.553 orang atau 90,69 persen berhasil mendapatkan pekerjaan dan 1.596 orang berstatus pengganguran.
Sementara di tahun 2020, dari total 104.857 orang angkatan kerja, sebanyak 51.757 orang diantaranya tamatan Sekolah Dasar, dengan 50.506 orang atau 97,5 persen berhasil mendapatkan pekerjaan dan sebanyak 1.251 orang yang menganggur.
Sedangkan mereka yang menyandang status tamatan Perguruan Tinggi jumlahnya 14.898 orang, dengan 13.418 orang atau 90 persen berhasil mendapatkan pekerjaan dan 1.480 orang berstatus pengganguran.
Hal yang sama juga terjadi di tahun 2021, dimana persentase tamatan SD yang berhasil masuk ke dunia kerja juga lebih banyak dibanding mereka yang tamatan Perguruan tinggi.
Dari total 108.914 orang angkatan kerja, sebanyak 51.306 orang diantaranya tamatan Sekolah Dasar, dengan 50.373 orang atau 98,18 persen berhasil mendapatkan pekerjaan dan hanya 933 orang yang menganggur.
Sedangkan mereka yang menyandang status tamatan Perguruan Tinggi jumlahnya mencapai 16.488 orang, dengan 15.772 orang atau 95,66 persen berhasil mendapatkan pekerjaan dan 716 orang berstatus pengganguran.
Bupati Soppeng, Andi Kaswadi Razak yang dimintai tanggapannya terkait hal ini justru mengaku tak heran. Ia menilai saat ini dunia kerja terkhusus di Kabupaten Soppeng sudah tidak terlalu mengedepankan latar belakang pendidikan.
“Sangat terbatas porsi dan posisi untuk sarjana, karena kita di Soppeng ini tidak ada perusahaan-perusahaan besar, beda di luar, misalnya di Kalimantan. Permasalahan ini bukan hanya di daerah tapi negara pun pusing memikirkannya,” kata Kaswadi, Kamis (27/10/2022).
Kaswadi pun berharap para sarjana dan lulusan perguruan tinggi tidak bergantung pada keadaan dan bisa lebih kreatif dan berani menciptakan peluang bagi dirinya sendiri.
“Para sarjana ini harus bisa menciptakan lapangan kerja sendiri dan jangan mau jadi pekerja. Toh mereka sudah ada ilmunya,” tandas Kaswadi. (id)







Komentar