DBS NEWS, SOPPENG – Banyak orang Soppeng yang salah mengartikan bahwa stunting hanya bisa terjadi pada anak-anak dari keluarga miskin atau kurang mampu.
Nyatanya, stunting sebenarnya bisa terjadi dan dialami oleh semua anak dari berbagai kalangan dan level ekonomi.
Stunting sendiri merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badan yang di bawah standar.
Data terbaru Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa 20 persen anak-anak dari kalangan sosial-ekonomi menengah ke atas Indonesia juga mengalami stunting.
Sementara itu, berdasarkan data dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Soppeng diketahui, jumlah stunting di Kabupaten Soppeng hingga 20 Februari 2023, telah mencapai angka 883 kasus.
Dari jumlah tersebut, hanya 243 anak atau 28 persen yang masuk dalam kategori Miskin Ekstrim. Sedangkan, 640 anak atau 72 persen ternyata berasal dari kalangan keluarga mampu.
Miskin ekstrem adalah kondisi ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan dasar yaitu kebutuhan makanan, air minum bersih, sanitasi layak, kesehatan, tempat tinggal, pendidikan, dan akses informasi yang tidak hanya terbatas pada pendapatan, tapi juga akses pada layanan sosial.
(id)







Komentar