Bupati Soppeng, Suwardi Haseng (kiri) dan Bupati Wajo, Andi Rosman dalam bingkai ilustrasi
DBS NEWS, SOPPENG – Ada momen menarik yang terjadi saat perayaan hari jadi dua daerah bertetangga di Sulawesi Selatan, yakni Soppeng dan Wajo.
Bupati dari kedua daerah tersebut secara bergantian mengklaim daerahnya sebagai “anak bungsu” dalam silsilah persaudaraan Bone, Soppeng, dan Wajo (Bosowa).
Hal ini dilakukan sebagai strategi diplomasi untuk memohon bantuan pembangunan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel).
Klaim pertama muncul dari Bupati Soppeng, Suwardi Haseng, saat perayaan Hari Jadi Soppeng (HJS) ke-765 pada Rabu (8/4/2026).
Dalam sambutannya, Suwardi memposisikan Kabupaten Bone sebagai kakak tertua dan Wajo sebagai saudara tengah, sementara Soppeng adalah adik bungsu.
“Jadi suatu kewajaran bilamana adik bungsu senantiasa memohon bantuan dan perlindungan dari saudara tertuanya,” ujar Suwardi.
Hanya berselang sehari, pernyataan serupa terlontar dari Bupati Wajo, Andi Rosman, dalam puncak peringatan Hari Jadi Wajo (HJW) ke-627, Kamis (9/4/2026).
Andi Rosman mengoreksi silsilah tersebut dengan menyebut Wajo-lah yang seharusnya menyandang status bungsu agar mendapatkan perhatian lebih.
“Saya juga baru tahu, di antara Bone, Soppeng, Wajo (Bosowa) ternyata Wajo yang paling bungsu. Jadi namanya anak bungsu, ciri khasnya adalah mau dimanja. Jadi kalau Bone dan Soppeng dapat bantuan, ingat-ingatlah adik bungsunya,” ucap Andi Rosman.
Aksi saling klaim status “anak bungsu” oleh kedua Bupati ini dilakukan di hadapan Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman.
Penulis: Idham







Komentar