DBS NEWS, SOPPENG – Dalam dunia karier, ada dua tujuan yang umum diambil seseorang, yaitu antara menjadi seorang karyawan atau memilih menjadi seorang pengusaha.
Beberapa orang menggeneralisasi karyawan sebagai pengikut karena bekerja pada orang lain, sedangkan pengusaha sebagai pemimpin karena berani memperkerjakan orang.
Keduanya tentu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, namun akan sama-sama baik asal dijalani dengan maksimal dan optimal.
Nah, membahas soal karyawan dan pengusaha, mana sih yang jumlahnya lebih banyak di Kabupaten Soppeng?
Jika bercermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Soppeng, jumlah pengusaha di Kabupaten Soppeng saat ini jauh lebih banyak dibandingkan jumlah karyawan, pegawai atau buruh.
Tercatat pada tahun 2022, ada sekira 60.059 jiwa penduduk Kabupaten Soppeng yang berstatus sebagai pengusaha atau orang yang memilih membuka usaha sendiri.
Dengan rincian, Berusaha Sendiri sebanyak 39.642 jiwa, Berusaha Dibantu Buruh Tetap sebanyak 4.737 jiwa dan Berusaha Dibantu Buruh Tidak Tetap sebanyak 15.680 jiwa.
Sementara itu, total jumlah penduduk Soppeng yang berstatus sebagai Karyawan, Pegawai, Buruh dan Pekerja angkanya sebanyak 50.956 jiwa.
Mereka terdiri dari Karyawan, Pegawai dan Buruh sebanyak 32.903 jiwa, Pekerja Bebas sebanyak 5.100 jiwa dan Pekerja Keluarga sebanyak 12.953 jiwa.
Menariknya, meski saat ini jumlah pengusaha jauh lebih banyak daripada karyawan. Tren justru menunjukan jumlah pengusaha mengalami penurunan, sedangkan jumlah orang yang memilih menjadi karyawan atau pekerja bagi orang lain mengalami peningkatan.
Sebagai perbandingan, tahun 2021, jumlah pengusaha di Kabupaten Soppeng masih diangka 61.806 jiwa. Jika dibandingkan dengan tahun 2022, artinya ada penurunan jumlah orang yang membuka usaha sendiri mencapai 1.747 jiwa.
Sedangkan jumlah orang yang memilih menjadi karyawan atau pekerja bagi orang lain mengalami peningkatan. Tahun 2021, jumlahnya bahkan masih diangka 44.839 jiwa, artinya ada peningkatan mencapai 6.117 jiwa dibanding tahun 2022.
Sementara itu dilansir dari Kumparan, Mantan Ketua Umum HIPMI, Bahlil Lahadalia pernah berpendapat, bahwa idealnya jumlah pengusaha di Indonesia adalah minimal 4 persen dari jumlah penduduk.
Namun hal tersebut tidak mudah dicapai lantaran mayoritas lulusan perguruan tinggi atau milenial saat ini lebih bersemangat menjadi karyawan.
“Problem kita itu anak-anak millenial, mahasiswa atau yang sudah selesai kuliah, sebagian besar itu kencenderungan jadi karyawan lebih tinggi daripada jadi entrepreneur,” ujar Bahlil pada tahun 2019.
Menurut dia, alasan milenial enggan jadi pengusaha yakni karena ingin lebih bersantai. Sebab karyawan dianggap sebagai profesi yang mapan, berbeda dengan pengusaha yang banyak risiko.
Padahal jika menjadi pengusaha, milenial dapat lebih santai dan memiliki pendapatan tak terbatas.
“Percaya deh. Jadi pengusaha itu enak, bisa bangun jam berapa aja. Enggak disuruh-suruh, Karyawan mana bisa begitu,” tegas Bahlil saat itu. (id)







Komentar