Studi Ungkap Tingkat Stres Kerja Masyarakat Soppeng, Hanya 6,7% yang Sehat

Ilustrasi

DBS NEWS, SOPPENG – Stres kerja kini menjadi isu kesehatan mental yang nyata bagi para pekerja, tak terkecuali di Kabupaten Soppeng.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Alauddin Makassar pada tahun 2018 mengungkap potret tekanan kerja yang dialami oleh sejumlah pekerja di Kabupaten Soppeng.

Mengambil sampel 45 karyawan bank, studi tersebut menemukan bahwa tekanan kerja telah memicu berbagai gejala fisik hingga perubahan perilaku pada responden.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 48,9 persen responden mengalami stres kerja ringan, sementara 40 persen lainnya berada di kategori sedang.

Sebanyak 4,4 persen responden bahkan telah memasuki tingkat stres kerja berat, dan hanya 6,7 persen karyawan yang mengaku tidak mengalami stres kerja sama sekali.

Meski secara umum tingkat stres berada pada skala rendah ke menengah, manifestasi gejala yang dirasakan para karyawan tergolong cukup tinggi.

Gejala yang paling banyak dilaporkan adalah gejala psikologis, yang dialami oleh 95,5 persen responden.

Hal ini terlihat dari sulitnya karyawan untuk berkonsentrasi, munculnya rasa bosan terhadap pekerjaan rutin, serta emosi yang menjadi lebih sensitif atau mudah tersinggung.

Selain itu, sebanyak 84,5 persen karyawan mengaku mengalami gejala fisik seperti kesulitan bernapas, kecemasan, lemas, keringat berlebihan, hingga detak jantung yang tidak stabil.

Dampak stres ini juga merambah pada aspek perilaku yang dirasakan oleh 73,3 persen responden. Gejala ini ditandai dengan menurunnya kualitas interaksi sosial, baik dalam hubungan dengan rekan kerja maupun anggota keluarga di rumah.

Komentar