Kajian Resiko Bencana Ungkap Biang Kerok Karhutla di Soppeng

Ilustrasi

DBS NEWS, SOPPENG – Kajian Risiko Bencana (KRB) Kabupaten Soppeng mengungkap biang kerok di balik kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap terjadi di Bumi Latemmamala.

Menurut kajian tersebut, pemicu utama karhutla di Soppeng ternyata bukan karena faktor alam seperti kekeringan dan sambaran petir, melainkan didominasi oleh aktivitas manusia.

Secara umum, karhutla memang identik terjadi di wilayah bervegetasi rawan seperti kawasan gambut atau bertanah organik. Hanya saja, wilayah Kabupaten Soppeng ternyata tidak memiliki lahan gambut.

Temuan inilah yang membuat tim penyusun KRB mengalihkan fokus analisis secara spesifik pada faktor jenis penggunaan lahan yang sangat rentan tersulut akibat aktivitas manusia.

“Umumnya wilayah Kabupaten Soppeng tidak memiliki lahan Gambut, sehingga analisa kebakaran hutan dan lahan dititikberatkan pada faktor jenis penggunaan lahan yang mudah terbakar oleh aktivitas manusia,” bunyi dokumen KRB tersebut yang dikutip Jumat (11/9/2026).

Dari dokumen KRB tersebut, diketahui juga bahwa potensi bahaya kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Soppeng saat ini mencapai seluas 131.653,35 hektare.

Kecamatan Lalabata mencatatkan total luas bahaya karhutla terbesar yakni mencapai 29.044,44 hektare, disusul Marioriawa dengan luas 25.771,41 hektare

Kemudian Donri-Donri dengan 22.621,68 hektare, Marioriwawo 22.039,38 hektare, Lilirilau 14.973,84 hektare, Liliriaja 8.373,78 hektare, Ganra 4.698,09 hektare, dan Citta 4.130,73 hektare.

“Potensi bahaya kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Soppeng masuk dalam kategori kelas tinggi,” bunyi kajian tersebut.

Sekedar diketahui, analisis dari kajian resiko bencana ini berasal dari pengolahan data tahun 2025.

Penulis: Idham

Komentar