Seberapa Besar Peluang Kaya jika Terlahir Miskin di Soppeng?

Istimewa

DBS NEWS, SOPPENG – Mungkinkah seseorang yang lahir dari keluarga miskin di Kabupaten Soppeng mampu mengubah nasibnya menjadi orang kaya?

Jawabannya tentu saja mungkin, tetapi jalan menuju kesejahteraan tersebut bakal diuji oleh berbagai tantangan ekonomi dan keterbatasan akses yang ada di daerah.

Sekedar diketahui, penduduk miskin di Kabupaten Soppeng saat ini menghadapi tantangan terkait rendahnya tingkat pendidikan serta minimnya lapangan pekerjaan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS), Pada tahun 2023, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Soppeng tercatat sebanyak 17,2 ribu jiwa.

Dari angka tersebut, sebanyak 52,67 persen di antaranya tidak memiliki pekerjaan, hal itu diperparah karena 20,86 persen bahkan tidak memiliki ijazah Sekolah Dasar (SD).

Setahun berselang, pada tahun 2024, jumlah penduduk miskin menurun menjadi hanya 15,9 ribu jiwa. Namun kualitasnya tidak jauh berbeda.

Proporsi penduduk miskin yang tidak memiliki pekerjaan  masih ada sebanyak 43,80 persen, sementara yang tidak memiliki ijazah SD ada di angka 16,23 persen.

Penelitian lembaga riset SMERU Institute yang dipublikasikan di makalah internasional Asian Development Bank (ADB) menunjukkan bahwa 87 persen anak-anak yang lahir dari keluarga miskin di Indonesia cenderung tetap berpenghasilan rendah ketika mereka dewasa.

Riset ini melibatkan 1.522 anak dan membandingkan pendapatan mereka pada tahun 2000 ketika mereka masih berusia 8-17 tahun dengan pendapatan mereka pada 2014 ketika mereka menginjak usia 22-31 tahun.

Penelitian itu menunjukkan bahwa keluar dari jerat kemiskinan tidak semudah yang banyak orang kira karena kemiskinan yang terjadi pada anak-anak berkaitan dengan kondisi kemiskinan keluarganya.

Kemiskinan keluarga akan membatasi akses anak-anak terhadap berbagai kesempatan, misalnya untuk mendapatkan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang sebenarnya diperlukan untuk memperbaiki kondisi ekonomi mereka.


Sementara itu, studi Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) dalam laporan berjudul “A Broken Social Elevator? How to Promote Social Mobility” mengungkap fakta yang jauh lebih kelam lagi.

Hasil studi mereka menemukan fakta bahwa di negara-negara maju, dibutuhkan waktu rata-rata 4 hingga 5 generasi atau sekitar 100–125 tahun bagi anak dari keluarga berpenghasilan terendah untuk mencapai pendapatan rata-rata nasional.

Sementara itu, di beberapa negara dengan ketimpangan tinggi, jangka waktunya bahkan bisa memakan waktu jauh lebih lama, yakni mencapai 9 hingga 11 generasi.

Penulis: Idham

Komentar