DBS NEWS, SOPPENG – Tahukah anda, bahwa jumlah perempuan lajang di Kabupaten Soppeng terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
Paling tidak, itulah yang bisa dilihat dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2021 dan 2020.
Dalam catatan BPS Sulsel, pada 2021, Kabupaten Soppeng memiliki total 107.620 perempuan berumur 10 tahun ke atas, dari jumlah tersebut sebanyak 30.715 jiwa (28,54%) diantaranya berstatus Belum Kawin dan 56.231 (52,25%) berstatus Kawin.
Angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan jumlah perempuan lajang di tahun 2020, dimana dari total 107.240 perempuan saat itu, sebanyak 26.971 jiwa (25,15%) memiliki status belum kawin.
Jumlah tersebut sebenarnya bisa lebih banyak lagi, jika memasukkan jumlah perempuan dengan status bercerai, baik cerai hidup maupun mati.
Survei BPS tahun 2021, jumlah perempuan di Kabupaten Soppeng dengan status cerai hidup mencapai 3.638 jiwa (3,38%) dan cerai mati 17.036 jiwa (15,83%).
Sedangkan pada tahun 2020, jumlah perempuan Soppeng dengan status cerai hidup mencapai 5.201 jiwa (4,85%) dan cerai mati 15.743 jiwa (14,68%).
Jika dibandingkan dengan Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatan. Persentase perempuan berstatus belum kawin di Kabupaten Soppeng berada diperingkat 16.
Persentase perempuan berstatus belum kawin terbanyak di Sulsel masih terpusat di daerah perkotaan. Dimana Kota Palopo dan Makassar menunjukkan persentase tertinggi.
Total persentase perempuan berstatus belum kawin di Kota Palopo di tahun 2021 mencapai angka 38,35 persen dari jumlah penduduk perempuan berumur 10 tahun ke atas, sedangkan Kota Makassar 37,93 persen.
Sementara itu, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh dua mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UNISMUH) Makassar, Nursalam dan Mas’ud Ibrahim, terungkap lima faktor yang melatar belakangi wanita untuk memilih belum menikah.
Faktor pertama, karena terlanjur memikirkan karier dan pekerjaan. Kedua, adanya prioritas-prioritas kehidupan lainnya, dimana mereka merasa perkawinan bukan satu-satunya cara untuk mendapat kebahagiaan.
Faktor ketiga, ingin menjalani kehidupan pribadi secara bebas. Keempat, adanya perasaan masih dibutuhkan oleh keluarganya di rumah. Dan kelima, adanya ketakutan akan permasalahan dan konflik rumah tangga.
“Penelitian ini dilakukan terhadap wanita karier yang memilih tidak menikah di Kota Ende, Kabupaten Ende. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa masyarakat sekitar pun memiliki pandangan yang positif terhadap beberapa wanita karier yang memilih hidup melajang.”
“Para wanita karier lajang ini tetap menjaga nama baik, serta menjunjung tinggi harkat dan martabat keluarga. Melihat lingkungan tempat tinggal yang masih begitu erat nilai-nilai kebudayaannya, mereka tidak berani melakukan hal-hal diluar batasan sehingga pilihan hidup melajang ini dianggap sebagai suatu pengorbanan positif yang mereka lakukan karena lebih ingin memfokuskan diri dalam berkarier,” tulis para peneliti. (id)







Komentar