Riset Ungkap Fakta Miris Kehidupan Keluarga TKI di Soppeng

DBS NEWS, SOPPENG – Jika Anda berpikir bahwa kehidupan para keluarga Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Kabupaten Soppeng penuh dengan kesejahteraan, maka anda salah!.

Nyatanya, kehidupan beberapa keluarga TKI di Kabupaten Soppeng justru tak seperti yang dibayangkan dan diharapkan, ibarat peribahasa ‘jauh panggang dari api’.

Beberapa keluarga TKI ternyata belum bisa sepenuhnya mengandalkan kiriman uang tiap bulannya.

Pasalnya, menjadi TKI saat ini tidaklah mudah, mereka tidak jarang mendapatkan perlakuan buruk dari majikannya.

Misalnya pada kasus pemberian gaji, banyak TKI yang ternyata harus mengalami pemotongan, keterlambatan bahkan sampai penahanan gaji oleh majikan.

Hal tersebut berdampak pada terlambatnya pengiriman uang untuk keluarga di kampung halaman, sehingga keluarga TKI dituntut untuk memutar otak.

Mereka harus memikirkan bagaimana cara bertahan dan bagaimana cara dapat memenuhi kebutuhan hidup yang semakin kompleks dari hari ke hari.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM), Hairunnisa, mengungkap fakta miris dari kehidupan keluarga TKI di Kabupaten Soppeng.

Dalam penelitiannya, Hairunnisa menyebut ada tiga strategi yang harus dilakukan beberapa keluarga TKI di Soppeng dalam menyiasati pemenuhan kebutuhan hidup.

Tiga strategi bertahan hidup ini yaitu Strategi Aktif, Strategi Pasif dan Strategi Jaringan.

Strategi Aktif adalah cara yang dilakukan keluarga TKI dengan melalukan pekerjaan sampingan sambil menunggu kiriman uang dari keluarga yang menjadi TKI.

Biasanya, mereka juga turut mengikutsertakan anggota keluarga lainnya untuk mencari nafkah.

Hasil penelitian menunjukkan, keluarga TKI di Kabupaten Soppeng ini kebanyakan memilih pekerjaan sampingan sebagai tukang masak, tukang jahit, dan pedagang.

Selain strategi aktif, keluarga TKI di Soppeng juga melakukan Strategi Pasif.

Strategi Pasif adalah strategi yang dilakukan dengan melakukan penghematan, dan menyisipkan sebagian pendapatan untuk kebutuhan yang lebih penting.

Hal ini harus mereka lakukan agar penghasilan keluarga mereka dapat menutupi semua kebutuhan. Strategi ini dinilai cukup berhasil untuk menekan pengeluaran keluarga.

Bentuk penghematan yang biasa keluarga TKI lakukan adalah dengan membeli bahan makanan yang lebih murah dan tahan lama.

Keluarga TKI biasanya melakukan penghematan dengan mengubah kualitas dan kuantitas bahan makanan mereka.

Misalnya dengan mengubah perilaku konsumsi ikan segar menjadi ikan kering, agar pengeluaran keluarga bisa dikontrol dan bahan makanan tersebut bisa disimpan lebih lama.

Tak hanya itu, strategi penghematan juga dilakukan dengan membeli persediaan makanan pada saat harga sedang murah.

Strategi terakhir yang dilakukan keluarga TKI di Soppeng dalam bertahan hidup adalah Strategi Jaringan. Strategi ini biasanya dilakukan dengan meminjam uang kepada sanak saudara.

Pinjaman ini untuk menutupi biaya kebutuhan sehari-hari apabila kiriman uang dari keluarga yang menjadi TKI terlambat.

Tidak banyak keluarga TKI yang melakukan strategi meminjam uang ini. menurut mereka, meminjam hanya akan menambah beban buat keluarga mereka nantinya.

Kalaupun ada keluarga TKI yang meminjam biasanya pinjaman didapatkan dari saudara paling dekat.

Strategi jaringan lain yaitu dengan menerima bantuan dari pihak pemerintah seperti bantuan Raskin atau Beras Miskin.

Meskipun jumlah beras yang diterima tidak banyak tetapi bantuan tersebut sudah sangat meringankan beban keluarga TKI yang memiliki kehidupan yang pas-pasan.

Strategi jaringan dengan mendapatkan bantuan dari pemerintah ini dinilai sangat membantu keluarga TKI.

“Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa strategi bertahan hidup tersebut tidak hanya digunakan untuk bertahan dan mengatasi semua permasalahan sosial ekonomi keluarga TKI, namun juga digunakan agar keluarga memiliki kehidupan yang layak dan memiliki penghasilan tinggi.”

“Jadi semakin banyak strategi yang digunakan, maka pendapatan keluarga juga akan meningkat,” tulis Hairunnisa dalam penelitiannya. (id)

Komentar