DBS NEWS, SOPPENG – Pemerintah Kabupaten Soppeng masih memiliki pekerjaan rumah dalam mewujudkan ketahanan energi.
Pasalnya, dalam konteks energi untuk memasak menggunakan gas LPG, misalnya, masih ada masyarakat Kabupaten Soppeng yang ternyata tidak bisa menikmati akses LPG.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), dari total 56.929 rumah tangga di Kabupaten Soppeng, persentase rumah tangga yang menggunakan LPG untuk memasak yaitu 93,53 persen.
Masih terdapat 6,02 persen atau sekira 3.427 rumah tangga di Soppeng yang memasak menggunakan kayu bakar, arang, briket dan minyak tanah.
Sisanya, memasak dengan bahan bakar listrik sebanyak 0,32 persen dan tidak memasak di rumah sebanyak 0,13 persen.
Persentase masyarakat yang menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar utama untuk memasak ini sebenarnya mulai berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Di tahun 2019 misalnya, persentase penggunaan kayu bakar oleh rumah tangga di Soppeng bahkan masih diangka 14,83 persen. Lalu 12,31 persen di tahun 2020 dan 12,12 di tahun 2021.
Jika dibandingkan dengan Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, Soppeng berada di peringkat 10 besar sebagai daerah dengan persentase terbanyak penggunaan kayu bakar oleh rumah tangga.
Peringkat pertama ditempati oleh Tana Toraja, dimana 48,60 persen rumah tangganya masih memakai kayu bakar.
Lalu Sinjai sebanyak 29,25 persen, Toraja Utara 22,33 persen, Luwu 10,91 persen, Luwu Utara 9,47 persen, Bone 9,45 Persen, Enrekang 7,99 persen, Bulukumba 7,92 persen dan Bantaeng 6,19 persen.
Hal ini tentunya menjadi ironi tersendiri bagi pemerintah pusat, di tahun 2021 saja, pemerintah mengalokasikan anggaran mencapai Rp 54 triliun untuk subsidi LPG dan menyediakan LPG sampai 7,5 juta metrik ton untuk masyarakat. (id)







Komentar