DBS NEWS, SOPPENG – Pernahkah terbesit dalam pikiran anda, Seandainya Kabupaten Soppeng memiliki klub sepakbola yang bisa bermain di kasta tertinggi liga sepakbola Indonesia.
Bermain dan berkompetisi di level yang sama dengan klub kebanggaan Sulawesi Selatan yang lebih dulu ada, PSM Makassar.
Sebagaimana diketahui, Sepakbola Indonesia di era modern sekarang ini sudah mulai bergerak maju menjadi sebuah industri.
Industri sepakbola sudah mampu memberikan penghidupan kepada ratusan bahkan ribuan orang yang berada disekeliling klub.
Klub yang dikelola secara profesional akan mampu menjadi sumber penghasilan bagi pemain, pelatih dan jajaran manajemen.
Bahkan Keberadaan klub sepakbola juga akan berdampak bagi masyarakat sekitar, contohnya para pedagang asongan dan tukang parkir yang biasanya akan bermunculan jika klub sepakbola melakukan pertandingan.
Lantas, berapa sebenarnya modal yang harus dipersiapkan untuk mengelola sebuah klub sepakbola di Indonesia?.
Perlu diketahui, kompetisi sepakbola di Indonesia saat ini terdiri atas tiga tingkatan, yakni dari yang paling rendah Liga 3, kemudian di atasnya ada Liga 2, dan yang paling tinggi Liga 1.
Dari kasta inilah letak perbedaan besaran modal bisnis klub sepakbola.
Modal bisnis yang dikucurkan untuk klub sepakbola yang bermain di kasta kompetisi liga 3 lebih murah dibandingkan dengan klub bola yang bermain di kompetisi liga 2 dan 1.
Dilansir dari CNBC Indonesia, Pengamat sepakbola, Mohamad Kusnaeni mengungkapkan, untuk Liga 3 sebuah klub biasanya menyiapkan modal sebesar Rp2 miliar hingga Rp5 miliar untuk menjalani satu musim kompetisi.
Sementara di Liga 2, klub normalnya membutuhkan modal Rp10 miliar hingga Rp20 miliar. Sementara untuk kompetisi kasta tertinggi, yakni Liga 1, modal yang diperlukan kurang lebih Rp 40 miliar dalam semusim.
Pria yang disapa Bung Kus ini menjelaskan bahwa modal hingga puluhan miliar rupiah itu dibutuhkan untuk gaji pemain, manager dan biaya operasional klub.
“Satu musim di Liga 2 itu rentang waktunya sekitar 6-7 bulan, ya itu sekitar Rp 20 miliar. Kurang dari Rp 20 miliar pun bisa tergantung bagaimana kita mengelolanya. Bahkan di Liga 2 ada klub yg dikelola Rp 5 miliar hingga Rp 6 miliar saja bisa,” jelasnya.
Sementara itu dilansir dari CNN Indonesia, mengacu pada Transfermarkt klub-klub Indonesia pada musim 2022/2023, Persija Jakarta menjadi klub dengan harga pasar paling tinggi, yakni Rp102 miliar.
Adapun posisi kedua ditempati Bali United dengan harga pasar mencapai Rp83 miliar. Sedangkan posisi keempat dan kelima ditempati Bhayangkara FC dan Borneo FC dengan kisaran Rp75 miliar.
Sedangkan Kampiun musim 2022/2023, PSM Makassar ternyata hanya memiliki market value diangka Rp47 miliar.
Sementara itu dari pos penghasilan, secara umum klub sepak bola punya enam sumber pemasukan, masing-masing adalah hak siar televisi, penjualan tiket stadion, hadiah uang (prize money), merchandise, transfer pemain, dan sponsor.
Sebagai gambaran dari klub Bali United, dilansir dari Radar Bali, pada musim 2019/2020, mereka saat itu tercatat memiliki kurang lebih 30 sponsor yang tercantum di jersey.
Para sponsor itupun menjadi 50 persen penyumbang pendapatan klub pada musim itu.
Lini pendapatan terbesar kedua Serdadu Tridatu berasal dari penjualan tiket pertandingan selama satu musim.
Sebagai catatan, okupansi rata-rata suporter yang menyaksikan pertandingan di Stadion Kapten I Wayan Dipta selama satu musim di Liga 1 2019/2020, jumlahnya mencapai 16.945 penonton per pertandingan.
Jika dihitung secara kasar saja, per pertandingan Bali United bisa meraup laba kotor dari penjualan tiket sebesar Rp 1.2 miliar.
Jumlah ini didapat dari rata-rata tiket reguler dan VIP yang terjual. Kalau dirata-ratakan sebesar Rp 75 ribu per tiket. Jika dikalikan 17 pertandingan dalam satu musim, Bali United berhasil meraup laba kotor sebesar Rp21,6 miliar.
Pendapatan terbesar ketiga adalah dari penjualan merchandise. Menurut Direktur Marketing dan Bisnis Bali United saat itu, jersey yang laku terjual di musim 2019/2020 mencapai 10 ribu buah.
Satu jersey seharga Rp 390 ribu. Jika dikalikan 10 ribu jersey, maka Bali United bisa meraih laba sebesar Rp 3,9 miliar.
Jumlah ini belum ditambah dengan merchandise lain yang terjual seperti T-Shirt, jaket, topi, gantungan kunci, hingga pernak-pernik Serdadu Tridatu lainnya.
Belum lagi pendapatan dari hak siar dari official broadcaster, media sosial seperti YouTube, hingga Bali United Café. (id)







Komentar