DBS NEWS, SOPPENG – Sejumlah mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) melakukan penelitian terkait fenomena praktik bisnis prostitusi atau pelacuran online yang terjadi di kota Watangsoppeng, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.
Para peneliti terdiri dari Mauliadi Ramli, Ernawati dan Abdul Rahman. Hasil penelitian mereka pun telah dipublikasikan dalam e-Journal Pendidikan Sosiologi tahun 2022.
Dalam laporannya, para peneliti menyebut, sebagai daerah transit lalu lintas darat, praktik prostitusi online di kota Watangsoppeng tidak terlalu sulit untuk ditemukan.
Praktik prostitusi ini kebanyakan terjadi di kawasan perumahan di tengah kota, hal itu terjadi karena belum adanya lokalisasi prostitusi tetap di kota Soppeng.
“Komunikasi dan interaksi dalam praktek prostitusi yang dijajakan secara online ini biasanya dimulai dari aplikasi michat ataupun nomor telepon germo yang sudah beredar luas di tengah masyarakat,” tulis para peneliti.
Peran germo atau ‘mammi’ menjadi sangat vital dalam praktik prostitusi di kota Watangsoppeng,
Menurut para peneliti, germo tidak hanya berperan dalam menyediakan fasilitas untuk para pekerja seks komersial yang bekerja untuknya.
Pihak germo juga berkewajiban memberikan pelayanan terbaik kepada para pengunjung. Hal tersebut dilakukan agar para pengunjung yang datang dapat berkunjung kembali.
“Upaya ini harus dilakukan oleh para germo agar bisnis praktik prostitusi yang dijalankan dapat semakin berkembang,” ujar para peneliti.
Dalam praktik bisnis prostitusi online, hubungan antara pihak germo dan PSK memiliki peran dan tanggung jawabnya masing-masing.
Pihak germo dalam hal ini juga menjadi induk atau orang tua asuh untuk para pekerja seks komersial yang bekerja sama dengannya dalam bisnis prostitusi online tersebut.
Sehingga, hubungan sosial antara keduanya harus berjalan dengan harmonis agar interaksi dan komunikasi antara germo dan PSK tetap terjaga.
“Hubungan sosial antara germo dan PSK sudah selayaknya seperti hubungan antara orang tua dan anak,” tulis peneliti.
Hambatan yang kerap dirasakan oleh para PSK dalam menjalani kehidupan sosialnya juga menjadi tanggung jawab germo.
Peran germo dibutuhkan dalam membantu dan mendampingi para PSK dalam menjalani kehidupan sosialnya.
“Hambatan yang kerap dirasakan oleh para PSK ini yakni, hubungan atau interaksi dengan pihak keluarga. Selain itu, lingkungan yang menjadi kawasan para PSK melakukan aktivitas praktik bisnis prostitusi online tersebut, tentunya anggapan warga sekitar tidak semuanya sama.”
“Olehnya, peran pihak germo dibutuhkan dalam mendampingi anak-anaknya dalam menjalani kehidupan sosialnya agar praktik bisnis prostitusi online yang dijalankan tetap berjalan,” Tulis para peneliti.
Lebih lanjut, para peneliti juga menyebut, praktik prostitusi di kawasan permukiman ini sudah lama disadari oleh masyarakat.
Lebih meresahkan, karena dalam praktiknya ternyata bisnis lendir ini sudah tidak dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Masyarakat pun sudah melaporkan hal ini kepada pihak berwajib, namun fenomena ini justru semakin menjamur.
“Hal ini mulai meresahkan warga sekitar karena sudah dengan terang terangan melakukan transaksi, dan beberapa warga sekitar melaporkan bahwa sering ada orang baru terlihat masuk di area perumahan yang intentitasnya cukup sering.”
“Hal ini dalam beberapa waktu terakhir sudah diamankan pihak kepolisian, namun masih banyak berkeliaran di daerah sekitar kota Watangsoppeng,” tulis para peneliti. (id)







Komentar