Menyingkap Perilaku Politik Pemilih Gen Z di Soppeng

DBS NEWS, SOPPENG – Data Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Soppeng, terdapat 181.890 Daftar Pemilih Tetap (DPT) di Kabupaten Soppeng untuk Pemilu 2024.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 31.982 jiwa diantaranya merupakan pemilih yang masuk kategori Generasi Z atau Gen Z.

KPU mengkategorikan Gen Z sebagai generasi yang lahir dari tahun 1997 hingga tahun 2012 atau berusia 17-24 tahun.

Dari data itu, dapat diartikan bahwa kehadiran Gen Z tidak bisa hanya dianggap sebatas angka saja.

Para Gen Z ini bisa memainkan peran potensial demi kebutuhan meraup dukungan konsituen politik pada kontestasi pemilu di tahun 2024.

Dan bukan tidak mungkin jika kehadiran Gen Z mampu menjadi kunci kemenangan bagi kontestan yang akan berkompetisi pada kontestasi electoral mendatang.

Adanya Gen Z ini membuat pola pendekatan dan komunikasi Politik harus lebih menarik.

Peserta pemilu wajib menggunakan strategi dan komunikasi politik kreatif guna memaksimalkan dukungan dari kalangan Gen Z.

Pasalnya, Gen Z ini dikenal sebagai generasi yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya dalam hal pandangan politik.

Stella M. Rouse dan Ashley D. Ross dalam bukunya berjudul The Politics of Millennials bahkan menyebut, bahwa Gen Z cenderung lebih progresif dan inklusif dalam pandangan politik mereka.

Generasi ini dinilai sangat mendukung isu-isu seperti hak minoritas dan kebijakan lingkungan.

Selain itu, mereka juga lebih aktif dalam menggunakan teknologi dan media sosial untuk berpartisipasi dalam politik dan mempengaruhi kebijakan.

Oleh karena itu, Rouse dan Ross menyebut, pemimpin politik dan partai politik sangat penting memperhatikan pandangan dan kebutuhan generasi ini, serta mengakomodasi keinginan mereka dalam kebijakan politik dan kampanye pemilihan. 

Di Kabupaten Soppeng, perilaku politik Gen Z pernah menjadi bahan penelitian oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UNISMUH) Makassar.

Penelitian yang dilakukan pada tahun 2019 ini mengambil sampel para pemilih pemula yang bersekolah di SMK Negeri 3 Watansoppeng.

Dalam laporannya, peneliti menyebut, perilaku politik pemilih pemula di Soppeng saat menentukan pilihan pada kontestasi pemilihan sangat dipengaruhi oleh beberapa pendekatan

Pendekatan ini yaitu, Pendekatan Sosiologis, Pendekatan Psikologis Sosial dan Pendekatan Pilihan Rasional.

Namun dari keseluruhan pendekatan tersebut, pemilih pemula di Kabupaten Soppeng ternyata lebih dominan dipengaruhi pendekatan sosiologis dalam memilih calon yang disukainya.

Pendekatan sosiologis ini ditunjukkan dengan keputusan memilih calon dengan melihat latar belakang demografi dan sosial ekonomi dari sosok pilihan mereka.

“Pemilih pemula di Kabupaten Soppeng lebih menitik beratkan latar belakang asal dari calon tersebut dan melihat pekerjaan serta jabatan yang diembannya,” tulis peneliti.

Menurut peneliti, hanya sedikit pemilih pemula yang memilih calon karena Pendekatan Psikologis Sosial dan dan Pendekatan Pilihan Rasional.

Pendekatan Psikologis Sosial biasanya digambarkan dengan keputusan memilih calon karena kedekatan dan loyalitas terhadap suatu partai pengusung.

Sedangkan Pendekatan Pilihan Rasional biasanya ditunjukkan dengan keputusan memilih calon karena visi dan misi atau apa yang dijanjikan oleh calon tersebut.

“Walaupun ada pemilih pemula yang menggunakan pendekatan psikologis sosial, akan tetapi sangat minim karena pendekatan ini bergantung dari kinerja partai politik untuk menarik minat pemilih pemula.”

“Begitupun dengan jumlah pemilih pemula yang menggunakan pendekatan pilihan rasional, juga tergolong minim karena faktor kurang pengalaman atau masih minim pengetahuan akan kebutuhan utamanya sendiri,” tulis peneliti. (id)

Komentar