DBS NEWS, SOPPENG – Fenomena childfree menjadi topik yang hangat diperbincangkan beberapa waktu lalu di media sosial.
Childfree bisa diartikan sebagai kondisi di mana pasangan memilih untuk tidak memiliki anak dalam pernikahan mereka.
Fenomena childfree ini sendiri sampai membuat Pemerintah Pusat menjadi ‘ngeri’, pasalnya tanpa kondisi childfree saja, Indonesia saat ini telah dibayangi oleh ancaman tren penurunan angka kelahiran anak.
Dilansir dari CNBC, Angka kelahiran anak atau Total Fertility Rate (TFR) di Indonesia terus menurun dalam tiga dekade belakangan.
Data World Population Prospects, TFR Indonesia masih di level 3,10 pada akhir tahun 1990. Data ini bisa diterjemahkan, bahwa setiap satu orang perempuan rata-rata melahirkan tiga anak sepanjang masa reproduksinya.
Namun, Indonesia mengalami tren penurunan TFR. Pada 2022, TFR berada di level 2,15. Artinya, setiap satu orang perempuan rata-rata melahirkan dua anak sepanjang masa reproduksinya.
Dengan demikian, data tersebut menunjukan angka kelahiran anak di Tanah Air sudah berkurang secara kumulatif sebanyak 30,64 persen selama periode 1990-2022.
Penurunan angka kelahiran ini cukup mengkhawatirkan pemerintah. Pasalnya, Indonesia memiliki target menjadi negara maju pada 2035 dan bonus demografi adalah salah satu modal untuk mencapai hal ini.
Fenomena pasangan yang memilih tak memiliki anak atau childfree inipun makin menekan kekhawatiran pemerintah.
Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo mengungkapkan bahwa fenomena child free yang berkembang dipicu oleh adanya ketiadaan informasi yang cukup dan benar soal pendidikan seksual dan reproduksi.
“Ada info yang miss yang terkait reproductive health dan sexual education sehingga akhirnya orang itu secara emosional tidak mau punya anak bukan karena pertimbangan logika,” ujar Hasto.
Menurut Hasto, di negara maju, penduduknya paham terkait dengan risiko bahwa tidak memiliki anak memicu risiko kesehatan.
Misalnya, kanker endometrium yang muncul pada orang yang tidak punya anak dan kanker payudara yang cenderung ditemui pada mereka yang tidak menyusui.
“Mereka kan tidak terpapar informasi ini oleh karena itu harus ada info yang seimbang,” ujarnya.
Sementara itu, jika bercermin pada laporan Proyeksi Penduduk Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan 2020–2035 yang dirilis Badan Pusat Statistitik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan pada 14 Juli 2023.
Kabupaten Soppeng sejak tahun 2020, diketahui tengah menjalani kondisi penduduk tumbuh seimbang, dimana Angka Kelahiran Total atau Total Fertility Rate (TFR) Kabupaten Soppeng berada di level 2,1.
Artinya, setiap satu orang perempuan di Soppeng rata-rata melahirkan dua anak sepanjang masa reproduksinya.
TFR sebesar 2,1 disebut sebagai angka standar capaian ideal bagi sebuah wilayah. TFR yang berada di bawah angka 2,1 maka penduduk cenderung akan mengalami penurunan jumlah, namun jika TFR lebih dari 2,1 maka akan terjadi pertumbuhan penduduk.
Namun dari hasil proyeksi BPS Sulsel, angka TFR Kabupaten Soppeng cenderung akan mengalami penurunan beberapa poin di tahun-tahun berikutnya.
Tahun 2025, angka TFR Soppeng diperkirakan akan turun menjadi 2,07. Kemudian tahun 2030 menjadi 2,04 dan tahun 2035 menjadi 2,02.
Meski mengalami penurunan beberapa poin. Namun diperkirakan hingga tahun 2035, perempuan di Soppeng akan tetap melahirkan rata-rata dua anak sepanjang masa reproduksinya. (id)







Komentar